IBX5820939B7836E

Sang Naga Tuna Netra Penjaga Merpati

Published by Fiandigital ™
Sang Naga dan Merpati

Sang Naga dan Merpati

 

“Be wise as serpents and innocent as doves”. Jadilah cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Sebuah peribahasa yang berisi anjuran agar kita berhati- hati, polos, dan tulus dalam bertindak. Dengan kata lain, bersosialisasi dengan sikap sederhana, apa adanya, terus terang, tulus, tenang dan bijaksana tanpa kelicikan.

Peribahasa itu mengingatkan saya pada sosok teman disabilitas bernama Darno, seorang tuna netra berumur 35 tahun, bertampang sangar, mantan napi dengan tato naga namun bijak dan berhati lembut. Sekilas jejak perjalanan hidupnya membuat seharian kami akrab saling bercerita tentang kehidupan. Hingga saya menjulukinya Sang Naga Tuna Netra, karena hampir seluruh tubuhnya dibubuhi tato gambar naga.

Jejak Masa Lalu

Jejak Masa Lalu, Hampir Seluruh Tubuh Dihiasi Seni Tatto Bergambar Naga

Kisahnya bermula beberapa tahun lalu. Sang Naga adalah sosok yang benar-benar sangar dan ditakuti. Siapa yang tidak mengenal Darno Negro, sapaan akrab kala dia menjadi preman di kawasan kota Jogjakarta waktu itu.
Dan karena sepenggal kisah kelam 2004, Sang Naga harus menetap di hotel prodeo. Saat itulah dia terjerat buaian narkoba hingga overdosis dan matanya tak lagi mampu melihat.

Perlahan, predikat preman sangar yang ditakuti orang pun hilang dari dirinya. Kehidupan sosial sebagai tuna netra perlahan mengubahnya menjadi bijak, lembut dan bermanfaat bagi sekitarnya.
Semua orang punya mimpi, termasuk Darno, Sang Naga Tuna Netra yang hidup dengan kebutuhan khusus. Darno dan teman-teman disabilitas lainnya tidak beda dengan kita yang normal. Ketika kita hanya melihat kekurangan seseorang, maka hanya itulah yang kita lihat. Padahal belum tentu orang yang kita lihat berkekurangan itu tidak bisa berprestasi dalam hidupnya. Darno tak ingin dilihat kekurangannya saja. Apalagi hanya dinilai perilakunya di masa lalu.

Sukses, berprestasi, juara, itu biasa. Tapi mengawali semua dengan semangat, penuh keinginan dan menjalani semua proses dengan tulus agar bermanfaat itu baru luar biasa. Inilah semangat Sang Naga melanjutkan kehidupannya dari sosok preman menjadi penyandang disabilitas.

Demi masa depannya, Sang Naga mengawali perubahan hidupnya menjadi penghuni Panti Tuna Netra dan Tuna Rungu Wicara Penganthi Temanggung. Sebuah UPT Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah yang menangani para penyandang cacat tuna netra dan tuna rungu wicara.

Akrab Bersama Teman-Temannya di Panti

Akrab Bersama Teman-Teman

Di panti ini, semangat hidup semakin tumbuh ketika Sang Naga bertemu Titi Sari Murniati, gadis asal Kebumen yang juga tuna netra. Gadis berusia 14 tahun yang masih lugu, polos, begitu sederhana namun cantik seperti burung Merpati. Titi masuk panti karena merasa tidak betah di rumah yang dibatasi rasa kekhawatiran berlebihan dari orang tuanya saat ia bermain dengan teman-temannya.

Pertemuan Sang Naga dengan Merpati ini menjadi kisah sendiri dalam lingkungan panti. Meski sadar awalnya banyak cerita miring, tapi Sang Naga tetap sabar. “Mereka masih muda, masih emosi labil, saya tidak masalah mau dinilai bagaimana. Dengan mereka, saya bersikap apa padanya, jujur, tulus dan ikhlas adalah pintu saya diterima di sini” ungkap Sang Naga.

Kini, Sang Naga dikenal baik dan akrab sama teman-teman disabilitasnya, termasuk pengurus panti. Kedekatan Sang Naga dengan Merpati bukan seperti ular berburu mangsa. Meski awalnya dikira pacaran tapi mereka ibarat kakak yang melindungi adiknya ketika bermain.

Sang Naga yang selalu menemani dan menjaga Merpati

Sang Naga yang selalu menemani Merpati

“Dia kan masih kecil dan lugu Mas, kalau ada yang mengejek atau mengganggu terus menangis, siapa yang akan melindunginya?. Kalau temen-temen Titi yang lain kan sudah dewasa, sudah ada yang berpacaran dan bisa menjaga diri sendiri, sedangkan dia kan masih butuh perlindungan.” ungkap Mbah Darno saat ngobrol santai dengan saya di teras masjid panti.

Entah kenapa sosok Titi yang pendiam, murung dan pemalu ini justru menurut pada Sang Naga yang bermasa lalu sangar. Mencoba akrab dengan Titi, saya pun sedikit bertanya, kenapa dia tidak takut dengan Sang Naga.

“Iya, dia ngakunya preman, tapi nggak tahu, saya merasa aman saja sama Mbah Darno”, jawab Titi singkat.

“Saya pun juga nggak tahu mas, dan sejak bertemu sampai saat ini Titi juga belum pernah memanggil saya. Hanya ketika berpapasan atau mendengar langkah kaki saya, dia sudah tahu kalau ini saya,” sahut Sang Naga.

Lho kok bisa ya, he he. Saya berpikir mungkin karena Titi adalah sosok tuna netra sejak lahir yang pemalu, pendiam dan sedikit tertutup maka dia punya rasa kepekaan yang tinggi terhadap sekitarnya. Mungkin bisa disebut six sense kali ya? He he.

Keduanya Semangat Berlatih Membuat Keset

Keduanya Semangat Berlatih Membuat Keset

Nah, tak hanya saat bermain atau bersantai di panti saja. Sang Naga terkadang menemani Titi saat membuat pesanan keset sebagai salah satu aktivitas yang sudah menjadi program panti ini. Hasilnya pun lumayan, bisa menjadi tabungan selama di panti nanti. Dan mungkin bisa sesekali dikirim untuk orang tua di rumah atau sekedar membeli tongkat baru sebagai alat kebutuhan khusus disabilitas.

Sang Naga dan Merpati betah tinggal di panti rehabilitasi. Di sini banyak teman, dan pengurus panti yang baik sudah seperti orang tua sendiri. Karena tak sedikit pengurus juga dari penyandang disabilitas.

“Di sini Titi kan dilatih menjadi seorang yang bermanfaat bagi sesama nantinya, banyak aktivitas praktik bermanfaat yang bisa dilakukan. Daripada di rumah juga tidak boleh bermain, nanti malah merepotkan orang lain,” jelas Sang Naga mewakili isi hati Merpati.

Azan Duhur pun mengakhiri obrolan santai saya dengan Sang Naga, karena masih ada tugas lain. Setelah salat berjamaah, saya pun berpamitan.

Dengan bekal keahlian di balik kekurangan sebagai penyandang disabilitas, Sang Naga punya mimpi. Setelah selesai masa rehabilitasinya nanti, ia akan membuka sebuah panti pijat sekaligus memproduksi barang hasil belajarnya selama di panti. Tak cuma meraih prestasi atau kesuksesan semata. Menjadi sosok bermanfaat dalam kehidupan untuk sesama saja, menurut dia, itu sudah lebih dari cukup. Sebuah cita-cita mulia di balik masa lalu hitamnya. Dan tak lupa, Sang Naga juga ingin mengajak Merpati menjadi salah satu asisten di bidang usahanya kelak.

Hasil karya sebuah keset.

Hasil karya sebuah keset.

Sosok Sang Naga yang juga pernah menjadi inspirasi tulisan Budayawan Magelang, Sutanto Mendut ini menutup ceritanya dengan kalimat, “Panti rehabilitasi adalah Akses untuk Semua”. Kata-kata yang menurut saya sangat inspiratif, terutama bagi penyandang disabilitas. Karena tempat ini menjadi tempat menimba ilmu untuk berprestasi dan bermanfaat meski mereka mempunyai keterbatasan fisik.

Selamat Hari Disabilitas Internasional, kita semua sama di mata Tuhan. Keterbatasan bukan hambatan bro.. Semangat..!

Sang Naga Tuna Netra Penjaga Merpati
(98.24%) 34 likes

Share

2 Responses to “Sang Naga Tuna Netra Penjaga Merpati”

  1. ellya December 9, 2014

    Keren

Leave a Comment

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.