Berburu Keindahan Milky Way

Milky Way
Milky Way

Keindahan Milky Way atau Galaksi Bima Sakti

Milky Way atau Galaksi Bima Sakti adalah pusat galaksi yang ada di sekitar rasi Sagitarius. Posisinya cukup mudah dicari dengan aplikasi android Sky Map atau dilihat dengan mata telanjang jika langit cerah dan disekitar kita cukup gelap tanpa ada polusi cahaya.

Berburu keindahan Milky Way ini merupakan hal menarik, terutama dalam fotografi. Saya beberapa kali gagal bertemu dengan galaxy yang cukup menjadi incaran rekan-rekan pehobi fotografi.

Milky Way
Milky Way

 

Saya berburu mulai dari lokasi terdekat dengan rumah saya di Ungaran, tepatnya bukit di belakang rumah saya tapi cukup sekali sajalah kalau sendirian ke sana, horor bro wekekeke.

Kemudian beberapa waktu lalu bersama temen-temen GPI Semarang ke sebuah lokasi wisata Kampung Rawa di Ambarawa, trus lokasi foto sejuta umat di kampung nelayan Semurup, Ambarawa juga. Pernah juga ngecamp di Candi Gedong Songo kemudian berlanjut sendirian bergabung di hunting persami komunitas foto temanggung (koforte). Dan kemarin saya refreshing nglayap semalaman di sekitar Candi Borobudur namun hujan deras dan kabut tebal justru menemani saya sampai pagi.

Milky Way
Flower and Milky Way

 

dieng 1dtDari beberapa perjalanan tersebut,  belum sekalipun bertemu milky way yang memukau mata saya. Banyak faktor selain cuaca hujan atau sekedar mendung awet, lokasi dengan polusi cahaya masih banyak, jatah libur yang habis, ada ajakan hunting namun waktu tidak tepat, bahkan kamera pernah rewel dua bulan membuat saya tidak berkutik saat itu wekekeke.

Akhirnya saya bersama seorang teman hunting terdampar kembali di sebuah dataran tinggi Desa Tlogopucung, Kandangan, Temanggung. Desa yang terdapat Embung Eksotis ini terletak pada ketinggian 1000 m dpl di atas permukaan laut. Jadi cukup oke untuk melihat Milky Way., kalau dulu gagal karena hujan dan awan hitam, sekarang walau sorenya hujan lebat dan bikin saya sedikit gemes, akhirnya disela-sela gerimis sunset pun terlihat hingga malam harinya boleh saya bilang Amazing World.

Sunset Tlogopucang
Sunset Tlogopucang

 

Di sana kami bertemu dengan Pak Ida, salah satu guru yang mengajar di SD Negeri 1 Tlogopucang. Beliau sangat ramah dan bisa dibilang juga hobi membatik kain dan sudah lumayan juga ordernya hehe. Karena kami bermalam di salah satu ruang kelas maka dengan Pak Ida inilah kami mendapatkan akses ijin tersebut, alhamdulilah nambah silahturahmi lagi.

——–

dieng 2d1n    Malam sudah datang, makan malam sederhana siap disantap sambil menunggu suasana yang masih gerimis dan langit masih tertutup. Ditemani kopi dan berbagai camilan sambil ngobrol seputar fotografi hujan masih belum berhenti sampai hampir tengah malam dan kami pun istirahat sejenak di ruang kelas.

Sekitar pukul 01.00 wib saya terbangun dan keluar menengok langit, wahh cerah sekali dan hamparan bintang terlihat tak terhingga. Dan, saatnya menyiksa kamera sampai pagi hehehe…

Bertempat di kegelapan tanpa polusi cahaya sama sekali, sepanjang pemandangan kota di bawah Gunung Sindoro-Sumbing terlihat indah. Begitu juga dengan hamparan bintang dan milky way di atasnya. Benar-benar penampakan Milky Way yang jelas jika dilihat dari posisi yang tepat. Tampak membelah bumi ketika saya melihatnya dengan posisi tidur, meski lensa saya yang hanya 15 mm tidak bisa merekam keseluruhan namun, pengalaman pandangan mata melihat Milky Way di lokasi yang tepat ini memang sangat indah.

Milky Way Sindoro Sumbing Prau
Milky Way di atas Gunung Sindoro Sumbing Prau

 

Hmmm…, begitulah sedikit pengalaman saya berburu Milky Way ini, dan memang salah satu lokasi di dataran tinggi Temanggung ini cukup menarik bagi fotografer landscape, selain pemandangan gunung sindoro-sumbing-prau, ada juga embung atau tempat air buatan untuk mengairi lahan tanam sekitar persawahan yang cukup menawan.

Next, saya akan kembali ke lokasi-lokasi yang cukup oke untuk melihat Mliky Way dan pastinya akan berbagi ke semua via blog ini…

See you all… 😉

#SalamOtw

Milky Way Sindoro Sumbing dari Tlogo Pucang, Temanggung, Jawa Tengah
Milky Way Sindoro Sumbing dari Tlogo Pucang, Temanggung, Jawa Tengah

 

Eksotisme Kawasan Dieng Plateau

Telaga Warna dari Bukit Kendil

Walau akhir-akhir ini sedikit santer pemberitaan bawah kondisi Kawasan Dieng sedang siaga satu karena asap beracun. Saya dan kawan-kawan dari Semarang dan Surabaya sudah mantab untuk pergi kesana, karena selalu update info dari teman jurnalis dan pengusaha di daerah Wonosobo, mereka mengatakan bahwa kondisi aman dan lokasi asap beracun yaitu Kawah Timbang ini cukup jauh dari lokasi wisata yang menjadi tujuan kami. Sedangkan tujuan kami antara lain adalah Gunung Prau, Telaga Warna, Kawah Sikidang dan Bukit Semurup. Memang kadang media itu kurang imbang dalam memberitakan dan ini merugikan bagi perekonomian kawasan wisata setempat.

Hari pertama,  Jumat malam (29/03/2013) rombongan dari Surabaya sudah datang dan bertemu dengan koordinatornya, Pak Jemmy Efendy, beliau kayaknya pembimbing mapala di Petra Christian University.  Dari Surabaya mereka naik bus, dan kumpul di sekitar Simpang Lima Semarang. Akhirnya mereka berangkat menuju Dieng dengan menggunakan mobil sewa. Sedangkan saya paginya sudah berangkat mendahului mereka karena bawa mobil sendiri dan hanya berdua, supaya tidak terlalu lelah nantinya dan santai di perjalanan hehe.

Makan Malam Istimewa di Homestay Pak Mujito

Setelah kurang lebih tiga jam perjalanan melewati hujan yang cukup deras, akhirnya sampai juga di Kawasan Candi Arjuna. Kabut dan hujan yang kadang berhenti kadang deras ini cukup menutupi Kawasan Candi Arjuna hingga membuat saya tidak bisa memotret dengan maksimal. Sambil menunggu rombongan yang berangkat dari Semarang, saya dan teman saya sejenak istirahat sambil ngopi dan menikmati tempe mendoan goreng di warung samping tempat parkir Candi Arjuna.

Ngobrol sana sini akhirnya kami memutuskan untuk stay di homstay saja. Untung bertemu dengan mas Suryan, dia biasa jadi guide dan rumahnya biasa dijadikan home stay oleh tamunya. Rate home stay disana berkisar 100-250 ribu. Itu semua sudah termasuk makan dengan menu rumahan, minuman kopi atau teh panas, plus mandi air hangat.

Saya pun kemudian sepakat dan menginap di homestay Pak Mujito, masih saudaranya mas Suryan. Kami sampai di homestay sekitar pukul 19.00, ngobrol sebentar perkenalan dengan Pak Mujito dan istri sambil menikmati kopi dan dinginnya kabut yang menyelinap masuk ke dalam rumah, akhirnya Bu Mujito membuatkan kami makan malam. Menunya istimewa yang cocok dihidangkan saat suasana memang sangat dingin. Indomie godok dengan sayur jamur pedas plus telor dadar, mantab jaya bro… Jamur kancing yang fresh dipetik dari kebun tak jauh dari rumah homestay ini benar-benar segar di mulut, yummy sekali. Bumbu pedas dan  kuah panas yang ngecemek (tidak terlalu banyak) ini membuat saya nambah hehehe.. Selain menghangatkan badan juga untuk stamina agar tidak lemas nanti bangun jam 03.00 pagi untuk hunting sunrise.

Candi Arjuna
Kawasan Candi Arjuna

Malam semakin dingin dan terasa lama diperkampungan sepi ini membuat saya ingin beraktifitas, saya tidak betah di kamar karena dingin yang luar biasa. Kemudian saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Candi Arjuna, sekedar melihat nuansa malamnya dan sedikit memotretnya. Ditemani mas Suryan saya menuju ke Candi Arjuna. Perlahan kabut dan hujan yang bertahan dari sore hingga malam itu pun mulai menghilang. Berbekal sebuah senter, saya dan teman saya berjalan menyusuri setapak yang gelap, hanya cahaya bulan yang tersingkap dari balik awan mendung. Akhirnya pertemuan budaya yang terbalut alam ini benar-benar eksotis, beberapa candi di kawasan Candi Arjuna dibalut tipisnya kabut, tampak indah tersorot lampu dari sudut-sudut candi.

Tak pikir panjang, saya dan teman saya segera mengabadikan moment ini. Kapan lagi coba, hampir tengah malam dan berkabut, ditengah kawasan candi hehe. Awalnya sebenrnya saya ingin memotret bintang dengan memadukan candi sekitar, tapi apa daya langit belum mendukung kita, kabut dan gerimis kadang silih berganti menutupi candi. Yah, akhirnya saya mendapatkan beberapa gambar walau belum begitu puas hehe. Kami pulang dan istirahat agar keesokan harinya siap hunting sunrise.

Hari kedua, kami memutuskan tidak bergabung dengan rombongan dari Surabaya, karena jalur yang diambil untuk pendakian mereka terlalu jauh dari tempat kami menginap. Kami memilih beda jalur dan beda tujuan dan akhirnya sampai pulang pun kami tidak bertemu. Setelah bangun agak kesiangan dan langsung packing, sekitar pukul 05.00 pagi perjalanan saya awali dari Kawasan Candi Arjuna lagi untuk melihat sunrise. Tepatnya dari Candi Arjuna atau Museum Kaliasa langsung ambil ke kiri jalan naik. Kami melihat sunrise dari atas jalan tersebut. Sunrise yang indah tersebut perlahan muncul dari balik Bukit Sikunir, menyinari menghangatkan dan mencairkan embun yang menyelimuti kehidupan di sekitarnya. Foto-fotonya bisa teman-teman lihat di gallery landscape saya ya hehe.

Museum Kaliasa
Museum Kaliasa

Dari hunting sunrise ini kemudian saya menuju Telaga Warna, tapi dengan view yang berbeda. Saya menuju Bukit Kendil di samping Telaga Warna, jalur pendakiannya tidak terlalu sulit, hanya 30 menit jalan kita sudah sampai di atas. Pemandangan disini cukup bagus, kita bisa melihat Telaga Warna seutuhnya, refleksi warna hijau yang fenomenal ini terlihat indah. Saya langsung ambil kamera dan mengabadikannya dengan mode panorama. Cukup indah dan layak dikunjungi. Jika beruntung, anda bisa melihat burung elang yang terbang di kawasan ini. Dan saya beruntung, cuman sayang kami tidak mengabadikan karena terpana melihat elang yang cukup cantik terbang rendah diatas kami hehe.

Tak ingin kesiangan dan hujan kembali mengguyur, dari Telaga Warna kami bergegas menuju Kawah Sikidang. Cukup menarik, di samping hamparan tumbuhan berwarna merah dan cemara, bahkan rerumputan. Kawah utama ini terletak di sisi sebelah kiri, untuk menuju kesana pun kita sudah melewati kawah-kawah kecil. Jika tidak membawa kamera pribadi disana banyak jasa foto langsung print, jadi tak usah khawatir jika ingin foto bersama keluarga, pacar atau sahabat saat disana. Saya sendiri hanya mengambil beberapa gambar landscape karena cuaca memang kurang bagus dan baterai kamera saya pun habis wekekekekeke.

Kawah Sikidang
Kawah Sikidang

Akhirnya hujan deras kembali mengguyur kawasan ini, saya memutuskan pulang. Eh tapi sebelum pulang, saya beli manisan buah Carica. Menurut teman saya rasanya segar dan enak diminum saat siang hari panas atau sore hari. Saya beli manisan ini dua kemasan saja, takut tidak doyan maka saya tidak beli terlalu banyak, soalnya saya tidak terlalu suka manisan hehe, kalau cewek manis beda lagi lho ya wekekeke.. :p

OK, saya pulang, dan sampai rumah, sama seperti saat berangkat, kami menuju semarang melewati hujan deras. Sampai rumah saya langsung coba buah carica ini, ternyata manisan atau sirup ini enak, wahh tahu gitu saya beli lima kemasan atau berapa gitu, seger tenan je.. 😀

Yah, begitulah teman-teman trip singkat saya ke Kawasan Dieng, sebenarnya masih banyak tujuan wisata disana. Sekitar Juli-Agustus saya berencana ke sana lagi untuk camping di Gunung Prahu, melihat beberapa Air Terjun, Danau Kecebong, dll termasuk melihat acara budayanya. Menurut info berikut agendanya dalam waktu terdekat.

Yuk kesana.. 🙂

 

DIENG CULTURE FESTIVAL

Setiap tahun , acara DIENG CULTURE FESTIVAL siap digelar sekitar  Bulan Juni – Juli – Agustus. Garis besar Susunan Acara hampir sama dengan DIENG CULTURE FESTIVAL tahun lalu, yaitu di isi dengan arak-arakan anak rambut Gimbal menggunakan kereta kuda  Keliling desa Dieng, Upacara pemotongan rambut Gimbal, Serta Pelarungan pelarungan Potongan rambut Gimbal ke Telaga.

Acara ini dimeriahkan oleh rangkaian pentas seni yang dibawakan oleh seniman Lokal seperti Tari Lengger, Tek-tek (Gelaran Musik tradisional dari Bambu), kesenian Rampak Yaksa dan sebagainya.

FESTIVAL SERAYU

Acara ini juga diadakan setiap tahunnya sekitar bulan Juli-Agustus ini berisi gelaran beragam seni budaya yang akan diadakan selama seminggu penuh. Selain acara Kesenian,  FESTIVAL SERAYU  juga  dimeriahkan dengan lomba-lomba lain seperti Lomba Fotografi, Lomba Seni Modern dan lain-lain. Acara ini memiliki target besar kunjungan wisata hingga 150 ribu orang wisatawan domestik dan 1000 wisatawan Mancanegara.

Keunikan Melihat Gerhana Matahari 2016

Pakai genteng kaca yang dihanguskan pakai bara api. Foto by: Nurchamim M Ashadi / Jawa Pos Radar Semarang
Anak-anak asyik melihat gerhana melalui media genteng kaca yang dihanguskan bara api. Foto by: Nurchamim M Ashadi

 

Pada 9 Maret 2016, sebagian wilayah di Indonesia sangat beruntung karena dilewati Gerhana Matahari Total (GMT). Walau pernah terjadi beberapa tahun silam, khususnya tahun 1983 yang konon beberapa negara termasuk pemerintah Indonesia saat itu memberikan larangan melihat gerhana matahari secara langsung karena dianggap bahaya atau pertanda buruk. Hingga akhirnya hampir seluruh lapisan masyarakat saat itu tidak berani menyaksikan dan melewatkan fenomena alam ini dengan meninggalkan mitos-mitos tertentu yang dianggap beberapa kalangan masa kini adalah pembodohan publik.

dieng 2d1nKini, justru eforia menyaksikan GMT ini sungguh luar biasa. Kurang lebih 1 minggu sebelumnya, ribuan kicauan status media sosial postingan blog / media umum ramai membahas bagaimana cara melihat dan mengabadikan GMT ini dengan aman. Tak hanya secara umum, saya sebagai penggemar fotografi pun banyak membaca sekilas tips and trick bagaimana cara membuat filter lensa murah meriah agar dapat mengabadikan fenomena alam yang diperkirakan akan terjadi lagi di Indonesia pada tahun 2023.

Koforte misalnya, sebuah komunitas fotografi di Temanggung ini membuat filter lensa dari bahan akrilik yang dilapisi stiker kaca film yang biasa ditempel di kaca mobil, cukup murah meriah dibanding filter kamera profesional yang harganya mencapai jutaan rupiah.

Uniknya, hal ini tak terjadi di kalangan pehobi foto saja tentang bagaimana cara menyaksikan GMT dengan aman, setidaknya jelas terlihat oleh mata normal dengan aman. Masyarakat umum ternyata lebih heboh dengan cara-cara kreatif uniknya menyaksikan fenomena alam ini.

Yuk simak, seunik apa sih… seru loh hahahaha…

1. Genteng Kaca yang Dibakar

GERHANA Hasil pengamatan gerhana dengan genting yang di panasi asap_NURCHAMIM (4)
Pakai genteng kaca yang dihanguskan pakai bara api. Foto by: Nurchamim M Ashadi

2. Negatif film atau klise foto

Filter kamera negatif film atau klise foto. Foto by: akun fb Haryo Gaban
Pakai negatif film atau klise foto. Foto by: instagram renzabambuena

3. Klise foto rontgen bekas

Pakai klise rontgen bekas. foto by: Nurchamim M Ashadi

4. Kotak kemasan susu 

Pakai bekas kotak susu yang ditutup aluminium foil kemudian dilubangi atau teropong lubang jarum. Foto by: Nurchamim M Ashadi

5. Pakai topeng atau kaca mata tukang las

Siswi SMK Pontren Darussalam Kota Demak melihat gerhana matahari total (GMT) dengan alat topeng las disekolahnya. Foto by: Wahib Pribadi

6. Kacamata Kreatif

Kacamata dari kayu dan filter bekas film rontgen. Foto by: akun fb M Talifun

 

Gimana… Keren kan… hahaha….

dieng 1dtItulah eforia kreatifitas yang luar biasa terjadi di Indonesia pada GMT 2016 ini. Nah, yang belum pernah mencoba silahkan mungkin GMT mendatang bisa dipraktekkan. Dan mungkin masih banyak cara unik lainnya. Saya sendiri kemarin juga cuman sekilas memotret menggunakan filter kamera ND8+CPL dan di depan rumah saja gara-gara bangun kesiangan wekekeke… Jadi nggak usah tanya hasil foto saya mana ya.. :p

Punokawan Dalam Sebuah Organisasi

Gambar diambil dari: http://njowo.wikia.com/wiki/Punokawan

Merasakan kala susah dan bahagian dalam semua beban tanggung jawab merupakan bonus kerja keras semua tim. Maka baik korporate maupun komunitas dengan unit yang banyak adalah baik jika struktur pentingnya mengadopsi tokoh “PUNOKAWAN”.
Sebuah kolaborasi berbagai karakter yang mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritisi sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan sebuah kebijakan.

SEMAR. Adalah pusat semua kepemimpinan punokawan. Dengan sifat rendah hati, tidak sombong, jujur, dan tetap mengasihi akan menjadi contoh karakter yang baik. Penuh kelebihan tetapi tidak lupa diri karena kelebihan yang dimiliki. Selalu mendampingi saat melangkah demi realisasinya visi misi.

GARENG. Dengan tangan yang cacat, kaki yang pincang, mata yg juling, melambangkan cipta berikut karakternya yang lucu, konyol dan selalu happy. Menjadi contoh bahwa saat menciptakan sesuatu, dan tidak sempurna, kita tidak boleh menyerah. Bagaimanapun kita sudah berusaha. Apapun hasilnya, tetaplah bersyukur supaya ceria dan pasrahkan segalanya padaNya.

PETRUK. Sebuah karakter dengan pemikiran panjang. Dalam menjalani hidup manusia harus berpikir panjang (tidak grusa-grusu) dan sabar. Bila tidak berpikir panjang, biasanya akan mengalami penyesalan di akhir. Sosok yang melengkapi sifat gareng dengan roso.. kepekaan dan kecerdasan yang mejadikan struktur punokawan semakin sempurna.

BAGONG. Inilah manusia yang sesungguhnya. walau petruk lengkap dengan keindahan dan kesempurnaan, tapi bagong lah yang dianggap sebagai manusia utuh. karena dia memiliki kekurangan. Jadi manusia yang sejati adalah manusia yang memiliki kelebihan dan kekurangan. jadi jangan takut atau malu karena kekurangan kita. karena kekurangan itulah yang menjadikan kita manusia seutuhnya.yang perlu kita pikirkan sekarang adalah, bagaimana meminimalkan kekurangan kita, dan memaksimalkan kelebihan kita. karena bagaimanapun kekurangan dan kelebihan itu tidak bisa kita buang atau kita hilangkan.

Begitulah kira-kira apa yang secara kultur budaya sudah mengajarkan kita bagaimana seharusnya bersikap dalam sebuah lingkungan baik kecil maupun besar. Tidak lain adalah saling berbagi sekaligus mendukung antar peran dalam menjalani kehidupan khususnya dalam hal berorganisasi.

Sang Naga Tuna Netra Penjaga Merpati

Sang Naga dan Merpati
Sang Naga dan Merpati

 

“Be wise as serpents and innocent as doves”. Jadilah cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Sebuah peribahasa yang berisi anjuran agar kita berhati- hati, polos, dan tulus dalam bertindak. Dengan kata lain, bersosialisasi dengan sikap sederhana, apa adanya, terus terang, tulus, tenang dan bijaksana tanpa kelicikan.

Peribahasa itu mengingatkan saya pada sosok teman disabilitas bernama Darno, seorang tuna netra berumur 35 tahun, bertampang sangar, mantan napi dengan tato naga namun bijak dan berhati lembut. Sekilas jejak perjalanan hidupnya membuat seharian kami akrab saling bercerita tentang kehidupan. Hingga saya menjulukinya Sang Naga Tuna Netra, karena hampir seluruh tubuhnya dibubuhi tato gambar naga.

Jejak Masa Lalu
Jejak Masa Lalu, Hampir Seluruh Tubuh Dihiasi Seni Tatto Bergambar Naga

Kisahnya bermula beberapa tahun lalu. Sang Naga adalah sosok yang benar-benar sangar dan ditakuti. Siapa yang tidak mengenal Darno Negro, sapaan akrab kala dia menjadi preman di kawasan kota Jogjakarta waktu itu.
Dan karena sepenggal kisah kelam 2004, Sang Naga harus menetap di hotel prodeo. Saat itulah dia terjerat buaian narkoba hingga overdosis dan matanya tak lagi mampu melihat.

Perlahan, predikat preman sangar yang ditakuti orang pun hilang dari dirinya. Kehidupan sosial sebagai tuna netra perlahan mengubahnya menjadi bijak, lembut dan bermanfaat bagi sekitarnya.
Semua orang punya mimpi, termasuk Darno, Sang Naga Tuna Netra yang hidup dengan kebutuhan khusus. Darno dan teman-teman disabilitas lainnya tidak beda dengan kita yang normal. Ketika kita hanya melihat kekurangan seseorang, maka hanya itulah yang kita lihat. Padahal belum tentu orang yang kita lihat berkekurangan itu tidak bisa berprestasi dalam hidupnya. Darno tak ingin dilihat kekurangannya saja. Apalagi hanya dinilai perilakunya di masa lalu.

Sukses, berprestasi, juara, itu biasa. Tapi mengawali semua dengan semangat, penuh keinginan dan menjalani semua proses dengan tulus agar bermanfaat itu baru luar biasa. Inilah semangat Sang Naga melanjutkan kehidupannya dari sosok preman menjadi penyandang disabilitas.

Demi masa depannya, Sang Naga mengawali perubahan hidupnya menjadi penghuni Panti Tuna Netra dan Tuna Rungu Wicara Penganthi Temanggung. Sebuah UPT Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah yang menangani para penyandang cacat tuna netra dan tuna rungu wicara.

Akrab Bersama Teman-Temannya di Panti
Akrab Bersama Teman-Teman

Di panti ini, semangat hidup semakin tumbuh ketika Sang Naga bertemu Titi Sari Murniati, gadis asal Kebumen yang juga tuna netra. Gadis berusia 14 tahun yang masih lugu, polos, begitu sederhana namun cantik seperti burung Merpati. Titi masuk panti karena merasa tidak betah di rumah yang dibatasi rasa kekhawatiran berlebihan dari orang tuanya saat ia bermain dengan teman-temannya.

Pertemuan Sang Naga dengan Merpati ini menjadi kisah sendiri dalam lingkungan panti. Meski sadar awalnya banyak cerita miring, tapi Sang Naga tetap sabar. “Mereka masih muda, masih emosi labil, saya tidak masalah mau dinilai bagaimana. Dengan mereka, saya bersikap apa padanya, jujur, tulus dan ikhlas adalah pintu saya diterima di sini” ungkap Sang Naga.

Kini, Sang Naga dikenal baik dan akrab sama teman-teman disabilitasnya, termasuk pengurus panti. Kedekatan Sang Naga dengan Merpati bukan seperti ular berburu mangsa. Meski awalnya dikira pacaran tapi mereka ibarat kakak yang melindungi adiknya ketika bermain.

Sang Naga yang selalu menemani dan menjaga Merpati
Sang Naga yang selalu menemani Merpati

“Dia kan masih kecil dan lugu Mas, kalau ada yang mengejek atau mengganggu terus menangis, siapa yang akan melindunginya?. Kalau temen-temen Titi yang lain kan sudah dewasa, sudah ada yang berpacaran dan bisa menjaga diri sendiri, sedangkan dia kan masih butuh perlindungan.” ungkap Mbah Darno saat ngobrol santai dengan saya di teras masjid panti.

Entah kenapa sosok Titi yang pendiam, murung dan pemalu ini justru menurut pada Sang Naga yang bermasa lalu sangar. Mencoba akrab dengan Titi, saya pun sedikit bertanya, kenapa dia tidak takut dengan Sang Naga.

“Iya, dia ngakunya preman, tapi nggak tahu, saya merasa aman saja sama Mbah Darno”, jawab Titi singkat.

“Saya pun juga nggak tahu mas, dan sejak bertemu sampai saat ini Titi juga belum pernah memanggil saya. Hanya ketika berpapasan atau mendengar langkah kaki saya, dia sudah tahu kalau ini saya,” sahut Sang Naga.

Lho kok bisa ya, he he. Saya berpikir mungkin karena Titi adalah sosok tuna netra sejak lahir yang pemalu, pendiam dan sedikit tertutup maka dia punya rasa kepekaan yang tinggi terhadap sekitarnya. Mungkin bisa disebut six sense kali ya? He he.

Keduanya Semangat Berlatih Membuat Keset
Keduanya Semangat Berlatih Membuat Keset

Nah, tak hanya saat bermain atau bersantai di panti saja. Sang Naga terkadang menemani Titi saat membuat pesanan keset sebagai salah satu aktivitas yang sudah menjadi program panti ini. Hasilnya pun lumayan, bisa menjadi tabungan selama di panti nanti. Dan mungkin bisa sesekali dikirim untuk orang tua di rumah atau sekedar membeli tongkat baru sebagai alat kebutuhan khusus disabilitas.

Sang Naga dan Merpati betah tinggal di panti rehabilitasi. Di sini banyak teman, dan pengurus panti yang baik sudah seperti orang tua sendiri. Karena tak sedikit pengurus juga dari penyandang disabilitas.

“Di sini Titi kan dilatih menjadi seorang yang bermanfaat bagi sesama nantinya, banyak aktivitas praktik bermanfaat yang bisa dilakukan. Daripada di rumah juga tidak boleh bermain, nanti malah merepotkan orang lain,” jelas Sang Naga mewakili isi hati Merpati.

Azan Duhur pun mengakhiri obrolan santai saya dengan Sang Naga, karena masih ada tugas lain. Setelah salat berjamaah, saya pun berpamitan.

Dengan bekal keahlian di balik kekurangan sebagai penyandang disabilitas, Sang Naga punya mimpi. Setelah selesai masa rehabilitasinya nanti, ia akan membuka sebuah panti pijat sekaligus memproduksi barang hasil belajarnya selama di panti. Tak cuma meraih prestasi atau kesuksesan semata. Menjadi sosok bermanfaat dalam kehidupan untuk sesama saja, menurut dia, itu sudah lebih dari cukup. Sebuah cita-cita mulia di balik masa lalu hitamnya. Dan tak lupa, Sang Naga juga ingin mengajak Merpati menjadi salah satu asisten di bidang usahanya kelak.

Hasil karya sebuah keset.
Hasil karya sebuah keset.

Sosok Sang Naga yang juga pernah menjadi inspirasi tulisan Budayawan Magelang, Sutanto Mendut ini menutup ceritanya dengan kalimat, “Panti rehabilitasi adalah Akses untuk Semua”. Kata-kata yang menurut saya sangat inspiratif, terutama bagi penyandang disabilitas. Karena tempat ini menjadi tempat menimba ilmu untuk berprestasi dan bermanfaat meski mereka mempunyai keterbatasan fisik.

Selamat Hari Disabilitas Internasional, kita semua sama di mata Tuhan. Keterbatasan bukan hambatan bro.. Semangat..!

Spesial Camping Trip Wisata Alam Posong

Foto Bersama KFS Camping #PhotoTrip Posong
Foto Bersama KFS Camping #PhotoTrip Posong

 

Ahayyy… akhirnya terlaksana juga camping trip yang sudah saya rencanakan xixixixi…. :p

Bersama KFS (Komunitas Fotografer Semarang) saya kembali ke Wisata Alam Posong, Temanggung. Kali ini saya menyuguhkan konsep trip yang didukung pengelola Posong. Adalah Camping with Photo Trip, jadi tak hanya menikmati wisatanya tapi juga khusus mengabadikan keindahan alam sekitar karena kebetulan saya juga hoby fotografi.

Perjalanan bermula ketika rombongan KFS yang berangkat dari Semarang, dan saya menunggu di Rest Area Kledung Pass dengan cuaca mendung yang kurang mendukung. Dan sekitar pukul 5 sore rombongan tiba, ISOMA (istirahat, sholat dan makan) sebentar trus ke Posong.

Bunga Tembakau Lereng Sindoro, Temanggung
Bunga Tembakau Lereng Sindoro, Temanggung

Tak lama kita semua sampai di Pos Posong untuk registrasi dan kemudian berjalan ke atas menuju lokasi camping. Alhamdulilah kita diberi cuaca yang cukup bagus malam itu, bagi yang naik mobil cukup beruntung karena selama perjalanan naik menuju lokasi tersebut dijamin ngowoh melihat hamparan pemandangan bintang di langit dan pemandangan kota Temanggung dari atas.

Akhirnya sampai di lokasi camping posong, semua berkumpul dan breafing sejenak untuk segala kelengkapan informasi camping foto trip kali ini. Semua sudah saya siapkan sih karena kebetulan saya kenal baik dengan pengelola wisata ini hehe.

Milki Way
Milki Way

Malam yang sangat indah dan saya rasa ini keberuntungan bagi rombongan saya. Walau sorenya mendung pekat dan was-was kalau hujan, ternyata justru amazing.

Tak lama setelah breafing, semua menyiapkan kamera untuk agenda hunting pertama memotret Milki Way, karena langit saat itu memang menawarkan keindahannya untuk kita abadikan.

Kembang Api di Posong
Kembang Api di Posong

Hunting malam itu cukup seru karena lokasi memang sudah saya setting sedemikian rupa dari lighting pendukung, lampion hingga sedikit kembang api. Hal ini karena saya maksimalkan karena saya juga kebetulan hobi foto maka segala sesuatunya saya ingin sesuaikan dengan imajinasi fotogafi saya.

Seru Bersama Menyalakan Lampion
Seru Bersama Menyalakan Lampion

Setelah hunting nightshoot rombongan saya ajak menikmati wisata campingnya yang pasti tak lepas dari ritual api unggun hehehe. Sebuah malam bernuansa dingin udara pegunungan ini sungguh indah terbalut kebersamaan canda tawa. Dengan konsep makan malam di bawah sinar rembulan serta sedikit pencahayaan dari obor dan musik dari pangeran bergitar membuat semua termanjakan sempurna.

Keindahan Suasana Posong saat Malam Hari
Keindahan Suasana Posong saat Malam Hari

Bahkan teman trip saya berkomentar, “Harusnya kamu bikin konsep ini untuk yang berpasangan pasti seru fian, semua romantis, lokasi gazebo didukung lampion, api unggun, obor, kembang api, semua dengan atap langit yang penuh bintang dan rembulan.” ucapnya sambil menikmati suasana malam itu. Sambil tersenyum saya menjawab, Ada kok spesial trip untuk beberapa pasangan resmi, kapan-kapan klu ada temen yang berminat kontak saya saja gpp hehehe.. 😀

Malam Kebersamaan Penuh Canda tawa
Malam Kebersamaan Penuh Canda tawa

Hingga akhirnya semua terlelap oleh canda tawa dan dinginnya malam di tenda masing-masing yang lengkap dengan penerangan, kasur, selimut dan bantal yang memang fasilitas trip ini, jadi kita ke sini tanpa harus membawa barang berat seperti tenda dll karena sudah tersedia semua. Dan saya sendiri tidak tidur karena tetap semangat motret sampai mentari menyambut hangat menyempurnakan malam spesial itu.

The Curve Lines Night, Lokasi Camping di Posong
The Curve Lines Night, Lokasi Camping di Posong

—–

Sekitar pukul 5.30 pagi semua bangun dan langsung disajikan landscape sunrise yang luar biasa dari tenda masing-masing. Lagi-lagi kita beruntung diberikan cuaca yang cerah.

Suguhan pemandangan Gunung Sumbing, Merapi, Merbabu, Telomoyo, Andong, Ungaran dan Gunung Muria terlihat dari kejauhan. Dengan latar belakang kita adalah Gunung Sindoro yang nampak jelas dan gagah, sebagai lereng dimana tempat letak obyek wisata alam ini. Nuansa biru langit dan hijaunya landscape tanaman tembakau membuat semua tampak luar biasa. Untuk foto bersama tak kelihatan klau ini di Indonesia xixixi.. :p

Sarapan di Posong
Sarapan di Posong
Sarapan di Posong
Sarapan di Posong
Sarapan di Posong
Sarapan di Posong
Sarapan di Posong
Sarapan di Posong

Seperti makan malam, sarapan pagi pun saya siapkan sempurna untuk memanjakan rombongan saya. Beberapa lokasi memang saya kondisikan closed khusus tamu saya, biar kelihatan keren dan mahal tentunya xixixixi.

Hmmmm.. cukup puas dan ingin sekali saya membuat trip seperti itu lagi, tak hanya di Posong tpi di lokasi alam yang cukup mendukung kenapa tidak, ayok siapa mau join xixixi.

Selamat Pagi dari Posong
Selamat Pagi dari Posong
Bersama Menikmati Keindahan Alam Posong
Bersama Menikmati Keindahan Alam Posong

——-

Nah, kalau mau paket Spesial Camping di area Wisata Posong ini bisa menghubungi Zunianto 0813-9297-3130. Bisa jadi buat anda yang kurang piknik dan  penat rutinitas pekerjaan dalam hiruk pikuknya suasana perkotaan, ada kalanya suasana alam adalah penawar yang tepat. Untuk konsep spesial ini minimal peserta 15 orang. Jadi kalau kalian punya komunitas, perkumpulan atau grup kecil bisa saya buatkan trip spesial ini. Tentunya makin banyak peserta makin murah biayanya, tapi khusus trip ini saya batasi cukup 25 peserta saja demi spesialnya malam di Posong hehe.

Tak hanya itu, kami juga menyediakan paket outbound lengkap dengan segala Fun Game dan High Rope Game dengan minimal 25 peserta.

Happy New Year 2015 Perayaan malam tahun baru di kawasan wisata alam posong.
Happy New Year 2015
Perayaan malam tahun baru di kawasan wisata alam posong.

Kejutan di Setiap Hunting Foto Landscape

Sindoro-Sumbing Mountain
Sindoro-Sumbing Mountain

Pesona Embung Tlogo Pucang

Embung, iya embung, bukan diambung (baca: dicium ; dari bahasa jawa) begitulah warga sekitar menyebut  tempat air buatan untuk mengairi lahan tanam sekitar persawahan, mirip danau kecil sih sebenernya. Saat ini embung ini  sudah menampung air hujan setinggi 3-4 meter sesuai desain awal dibangun 2011, karena air tampungan ini diharapkan bisa memenuhi  kebutuhan lahan tani seluas 20 hektar. Dan info yang saya dapat, proyek ini dilaksanakan oleh Yayasan Obor Tani Semarang serta masyarakat Tlogopucang yang dibantu oleh Bank Jateng dan menelan biaya sekitar 1,2 Miliar.

dieng 2d1nKeberadaan embung ini sedikit mengusik insting fotografi saya. Berawal dari postingan agenda hunting di grup facebook fotografi KOFORTE yang kebetulan ada beberapa teman saya juga di sana. Awalnya kurang tertarik karena ajakannya memotret milky way / galaksi bima sakti sedangkan cuacanya kok rasanya kurang mendukung dan saya kayaknya belum tentu pas libur kerja. Nah sambil sedikit memantau akhirnya dapat info secara geografis bahwa daerah tersebut ada danau buatan atau penampung air besar yang disebut embung ini sekaligus pemandangan Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prau.

Saat itu saya berfikir bahwa hal ini cukup menarik, setidaknya info lokasi baru buat saya daripada galaksi bima saktinya (milky way) walau saya sampai saat ini belum mendapatkan foto milky way yang cukup cantik. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut hunting koforte.

Hujan yang cukup deras tiba-tiba mengguyur mencoba menghadang perjalanan kali ini. Sepanjang rute yang saya lewati yaitu Ungaran – Bandungan – Sumowono – Kaloran – Temanggung diguyur hujan yang sangat lebat. Hingga akhirnya saya bertemu rekan-rekan koforte di Temanggung dan melanjutkan perjalanan menuju lokasi Embung tepatnya di Desa Tlogopucang Kec. Kandangan – Temanggung.

Sekitar pukul 18.00 wib rombongan tiba di halaman SDN 1 Tlogopucang. Di sinilah kami menginap dan menanti gugusan bintang milky way, tapi cuaca saat itu kurang mendukung. Hujan lebat masih belum reda yang akhirnya rombongan langsung menyantap makan malam sederhana namun luwar biyasa kebersamaannya ditemani menu pete bakar, ikan nila goreng dari kang benk-benk serta ublekan bumbu super dari tangan dik Keke yang cukup seru, mahasiswi Undip yang selalu tabah dan keep fun dibuly karena peserta cewek sendiri dan tangan kekar tetua rombongan koforte pakdhe Khamin.

Persami
Persami

Tak terasa hampir sepertiga malam langit masih belum menampakkan keindahannya, rombongan hanya bisa menanti cuaca membaik dengan main kartu, catur dan beberapa menyalakan api unggun sambil kurang kerjaan jalan memutari embung yang luasanya ratusan meter ini. Tapi cukup seru dan suasananya jadi bukan seperti hunting foto melainkan PERSAMI (Perkemahan Sabtu Malam Minggu) yang tidak sengaja atau sengaja sesuai nama huntingnya PERSAMI, hingga saya berfikir, ahhhh ini hanya alibi mereka saja, asline cen kemah kok iki, dudu hunting foto hahaha… begitu juga kata pakdhe Khamin.

Akhirnya saya tertidur hingga pukul 06.00 pagi, saat terbangun dan menengok jendela langit pun masih berawan hitam. Ah mau tidur lagi tapi kok rekan-rekan kayaknya sudah pada packing. Saya keluar ruangan dan melihat ada pelangi. Tanpa ba-bi-bu tanpo raup opo meneh adus, langsung saja memotret tanpa ampun…

Alhamdulilah, dapat bonus kejutan pelangi, salah satu kejutan alam yang selalu didapat setiap kali hunting landscape, adaaa saja kejutannya entah itu cuaca, perubahan lokasi dan yang paling cocok adalah kejutan kulinernya hihihi… Jadi berangkat hunting foto jangan kuatirkan cuaca kalau memang tidak ekstrem. Dan yang pasti moment tak mungkin terulang dan tergantikan…

The Rainbow Sindoro-Sumbing Mountain
The Rainbow Sindoro-Sumbing Mountain

Yah begitulah…, tapi memang cukup menarik lokasinya, selain mendapatkan panorama pengunungan bonus refleksi dari air embung ini, para pecinta landscape pasti menjadikan favorit place atau bahkan hidden spot karena eman-eman jika diberitahukan ke yang lain (ngomong wae pelit wekekeke).

Tidak usah khawatir hasil foto landscapemu banyak yang meniru, karena tidak ada foto landscape yang sama persis 100% di lokasi yang sama bahkan dari sudut pengambilan yang sama sekalipun. Maka berbagilah info lokasi foto yang menarik sesama pecinta landscape, karena apa yang sebenarnya kau sembunyikan itu bukanlah apa-apa kecuali secuil ego.

Selain landscape pastinya banyak human interest karena di daerah pertanian, milkyway, sunset, atau bisa saja bermain steel wool juga pasti ciamik, cukup oke untuk sedikit-sedikit melengkapi dan menghiasi gallery foto baik cetak maupun online atau mungkin stok lomba foto juga boleh.

dieng 1dtTerima kasih buat rekan-rekan koforte terutama buat mas Talifun sebagai tuan rumah di Desa Tlogo Pucang ini yang juga menunjukkan jalan tembus saya pulang ke Ungaran membelah hutan dan perkampungan kecil hingga akhirnya saya sampai rumah hanya menempuh waktu 1,5 Jam itu pun mampir dulu buat beli oleh-oleh susu kedelai dan tahu Bandungan untuk istri yang selalu mensuport kegiatan fotografi saya walau rada piye ngono nek pas wayae suamine lagi nglayap lali omah wekekekeke…

Buat temen-temen yang mau kesini jangan lupa hargai alam dan kehidupan sekitar. Minimal buanglah sampah pada tempatnya.

See you, koforte… and See you again Embung Tlogo Pucang  sekalian menengok ke Embung di daerah Kledung Pas, Temanggung arah Wonosobo yang menurut desas-desus juga mempunyai keindahan dan refleksi yang tak kalah dari Tlogo Pucang.

Salam #Mbolang

“Hand Job” Filter for Landscape Photography

Bagi fotografer landscape, sebuah filter adalah wajib dimiliki, seperti GND atau CPL. Hal ini diperlukan untuk mengurangi cahaya yang masuk, khususnya untuk hunting sun rises, sunset atau slowspeed. Apalagi jika menginginkan  komposisi ada foreground yang masuk dan tetap pas cahayanya, namun efek cahaya langitnya masih terjaga sesuai yang diinginkan. Karena biasanya jika tanpa filter langitnya bagus tapi forgroundnya siluet.

Nah, ada tips nih bagi temen-temen yang hunting sun rises/sunset ga punya filter atau  bingung pake filter apa, atau mungkin terlalu mahal jika beli yang berkualitas bagus.

Temen-temen bisa coba pake teknik “hand job” dari saya. Eitssss… “hand job” disini bukan manual stimulation saru yang ditemukan di situs pencari google dll ya hehehe. Ini hanya sebuah istilah yang spontan tercetus dari seorang teman fotografi saat membahas hasil jepretan foto saya yang memang pake teknik manual stimulation telapak tangan yang saya tutupkan di depan lensa sebagai pengganti filter sebagaimana mestinya. Tidak hanya ditutup saja, tapi juga harus distimulasi naik turun pake perasaan juga loh agar dapet pencahayaan yang dinamis hehehe.

Dalam dunia fotografi, cara ini sebenarnya lebih dikenal dengan sebutan “Black Card Technique”. Namun karena saya tidak menggunakan Card melainkan Telapak Tangan, maka disebut “HandJob” wekekeke.

Berikut contoh foto saya hasil “hand job” tanpa menggunakan filter gnd/cpl. Dan hampir semua foto sunrise dan sunset saya di web ini rata-rata menggunakan teknik ini.

Dan kalau pun masih ingin diedit lagi efek langitnya tidak terlalu susah, karena pada dasarnya foto aslinya sudah indah dipandang mata seperti di bawah ini saya foto dengan mode manual 32″ F13 ISO 100.

Warm Sunrise from Sikunir

Beauty of Sunrise Sikunir

Semoga tips ini berkenan dan berguna.
Maaf untuk foto pas saya nge-handjob blum ada fotonya, soalnya belum ada yang motretin, ini saya kasih video Black Cardnya saja ya, tekniknya sama.. lagian malu ah klu handjob direkam wekekeke.. :p

-salam-

Pesona Pengasapan Kaliasin Semarang

Mangut atau Iwak Manyung. Saya kira teman-teman pecinta kuliner di Semarang familiar dengan lauk sedap ini. Biasanya dimasak dengan bumbu pedas, salah satu masakan khas mangut / manyung ini bisa ditemui Warung Bu Fat di daerah Kelurahan Krobokan, Semarang Barat dan satu lagi langganan saya di daerah Sampangan tepatnya di sebelah kantor kelurahan atau seberangnya Sate Widodo, warung ini punya cabang di Jl Kiai Saleh kalau tidak salah.

Nah, tahu tidak ikan yang dimasak khas ini pengolahan pertamanya dimana?

Pengasapan Kali Asin, Bandarharjo Semarang Utara

dieng 1dtDi tempat yang berdampingan dengan sungai yang kadang masih kena rob inilah berbagai tahap proses pengasapan ikan dilakukan.  Ditandai dengan kepulan-kepulan asap yang tampak dari cerobong-cerobong rumah bambu dengan bentuk yang cukup eksotis ini menandakan pengasapan mangut sedang berjalan.

Saya bertemu dengan ibu fitri, serta ibu jaitun yang sibuk membalik ikan yang sudah cukup matang di tempat pengasapan yang terbuat dari rangkaian kawat. Dengan sedikit obrolan sebelum memotret, ibu fitri menjelaskan bahwa yang diproduksi di pengasapan ini  tidak hanya ikan tongkol dan manyung saja yang bisa diolah menjadi mangut, ikan patin, ikan tuna, dan ikan pari juga diolah di sini.  Dalam sehari produksi mangut kalau ramai bisa mencapai 8 kwintal. Harga satuannya sih cukup seribu saja, tapi kalau per kilo sekitar 30 ribu rupiah. Kalau untuk kepala manyung ya lebih mahal lagi hehe.

Proses Pengasapan Ikan di rumah cerobong asap
Proses Pengasapan Ikan di rumah cerobong asap

Nah, mangut yang telah diasapi ini di sebar ke pemesan, dengan menggunakan motor bak belakang dan motor becak semua pesanan diantar ke daerah pasar dan warung di Semarang dan sekitarnya, juga kepada para pengecer tentunya.

Selain itu Kaliasin adalah salah satu tempat hunting foto yang cukup populer baik dari dalam maupun dari luar Semarang. Banyak para fotografer sengaja datang ke Kaliasin untuk dapat mengabadikan indahnya landscape matahari terbenam diantara deretan rumah cerobong yang eksotis itu. Saya sempat memotret baik human interest maupun landscape di sana, menurut saya cukup eksotis. Saya pun ingin kembali memotret ketika nuansa sore yang indah dengan keemasan langit senja, karena saya belum mendapatkan yang benar-benar eksotis menurut saya.

Akses jalan di kawasan pengasapan ikan sudah dibenahi dan bebas rob
Akses jalan di kawasan pengasapan ikan sudah dibenahi dan bebas rob

Daerah ini terkenal karena rob nya, tapi keadaan ini sebentar lagi akan membaik. Terakhir minggu lalu saya kesana, jalan berikut talud di sekitar rumah pengasapan ini sudah dibenahi, tanah ditinggikan dipadatkan dan rencana akan dipaving dalam minggu-minggu ini.

Semoga dengan perbaikan tersebut, membuat akses dan pengelolaan mangut tradisional ini semakin berkembang, baik dari sisi pengolahan, pemesanan hingga    penjualan.

Nah, sebelum pulang, saya sempat memberikan foto yang saya cetak kepada ibu jaitun sebagai kenang-kenangan karena dulu pertama saya ke sini saya memotret beliau. Alhamdulilah diterima dengan senang hati. Indahnya berbagi ya hehehe..

 


Lihat Petunjuk Menuju Kawasan Kaliasin Semarang di peta yang lebih besar

Menghargai Alam Sekitar via Fotografi

Setiap hobi atau kesukaan pasti beda-beda dan mempunyai alasan idealis masing-masing.

Jika boleh merasakan, ketika saya melukis cahaya landscape atau seputar alam melalui kamera, itu tak beda seperti orang yang suka / hobi menulis. Karena seperti halnya tarian pena di atas daun lontar atau jemari di atas keyboard, endingnya hanya keindahan dan kedamaian yang tergores melantunkan makna.

Saya menemukan, dalam fotografi landscape, dan human interest ini bukan sekedar memotret saja. Tetapi kita lebih dipertemukannya terhadap cara menghargai alam dan kehidupan sekitar.

Tanpa merusak atau mengubah yang semestinya.

Berangkat
Berangkat