ilustrasi dari tribunnews.com

Terlepas dari pentingnya sebuah e-KTP, beberapa teman saya ada yang sampai sekarang tidak mau membuat e-KTP karena berfikir ini tidak lepas dari proyek intelejen Amerika. Ah mungkin karena dia sering menonton film spionase atau membaca buku konspirasi hehe. Dan ketika saya googling, eh lha kok ada sebuah blog yang mengulas hal tersebut. Tapi buat saya itu tidak masalah, namanya saja opini.

Dan kemarin, e-KTP saya sudah jadi. Bentuknya biasa saja ternyata, saya kira akan ada sebuah chip yang ditanamkan dalam sebuah kartu kependudukan tersebut. Ternyata hanya sebuah label hologram bertuliskan KTP di belakang kartu, mungkin untuk memberikan tanda keaslian.

Kemudian saya bertanya, apa bedanya dengan kartu lama dan kemana segala rekam data itu tersimpan?

Banyak kasus kesalahan cetak e-KTP di berbagai daerah, banyak pula kasus belum dibayarkannya biaya cetak kepada perusahaan yang memenangkan tender pengadaan, dan kasus-kasus lainnya terkait pengadaan kartu tanda penduduk ini. Kalau tender dengan biaya APBN memang ada saja persoalan, saya pribadi pernah memenangkan beberapa tender pengadaan pemerintah dan pencairannya tidak semudah yang saya bayangkan, padahal kalau kita terlambat pengerjaan tender akan kena denda sesuai undang-undang bahkan bisa kena black list atau putus kontrak ditengah jalan. Intinya kalau anda ingin bermain tender dengan dana APBD itu pengerjaannya tidak boleh terlambat dan salah tapi pembayaran mereka “boleh” diperlambat, apalagi musim pilgub begini biasanya dana APBD terlambat cair karena rawan bila disalahgunakan para politikus, hehe tapi ya itulah lika-liku bisnis. Jalani saja.

Nah, dengan banyaknya kasus tersebut, bagaimana keamanan data yang merekam seluruh rakyat nusantara ini?
Bukan masalah intelejen sih, namun boleh dong kita merasa was-was akan keamanan data kita. Saya ingat ungkapan teman saya bahwa dengan mendaftar e-KTP kita sebenarnya sudah telanjang dan data ketelanjangan kita sudah dipegang oleh pemerintah dan mungkin oknum jika ada kebocoran database saat masih di lingkungan kelurahan.

Kekhawatiran saya berawal ketika menyadari bahwa saat saya mendaftar e-KTP tersebut dilayani oleh siswa smu yang sedang magang di kantor kelurahan. Dan banyak media memberitakan banyak operator proses perekaman data tersebut gaptek bahkan terjadi hilangnya data. Khawatir saya jika masih ada celah untuk meng-copy database e-ktp tersebut oleh oknum saat masih di lingkungan kelurahan, tau sendiri kan di negara kita negosiasi itu sangat mudah hehe… Nah loe…

Rekam retina, tanda tangan, dan semua sidik jari tangan. Semua database diri kita itu sekarang sudah ditangan orang lain. Bukan apa-apa sih, segala sesuatu yang berkaitan dengan registrasi pasti menggunakan sidik jari dan tanda tangan. Seperti akun bank, sim, passport, visa dll. Mungkin era kedepan bisa jadi diperlukan rekam retina. Saya kok malah jadi ikut membayangkan teman saya yang mengapa sampai sekarang tidak mau membuat e-KTP tersebut itu ya hahaha…

Terlepas dari kekhawatiran saya, sambil berdoa semoga database kita aman oleh negara dan pasukan elit hacker indonesia dll di dunia jaringan teknologi ini menjaganya. Karena negara dan kita membutuhkan e-KTP ini. Selain sebagai tanda registrasi kependudukan juga dibutuhkan untuk berbagai kebutuhan. Bayangkan jika kita tidak memiliki kartu tanda penduduk ini. Misal ada ingin membeli rumah, membeli kendaraan, mencari kerja, pergi ke luar negeri, terkena musibah kecelakaan, kehilangan, dll. Semua menggunakan kartu sakti ini.Nah loe.. kalau ga punya e-KTP kita bagaimana coba?

Walau kartu lama yang masih lama masih berlaku (jika masa aktif belum usai) tetap saja dibutuhkan kesadaran untuk membuat e-KTP ini, bukan untuk negara tapi untuk kita sendiri. Apalagi pembuatannya gratis karena dibiayai oleh APBD. Untuk keamanan data juga sudah dijamin oleh Mendagri yang didukung Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg). Yuk yang belum bikin e-KTP segera bikin, trus langsung bikin passport atau e-passport,  siapa tahu dapat rejeki nglayap ke luar negeri tanpa batas hehehe…