Motret Kok Bayar Sih

picture by diebhul
Motret Aja Kok Harus Bayar by Arbain Rambey

Isu yang menggelitik namun menarik bagi para pecinta fotografi terutama pehobi. Motret aja kok bayar sih, demikian ulasan tentang fenomena fotografi yang diangkat oleh senior fotografi Arbain Rambey di Media Bisnis Indonesia edisi Media Cetak Bisnis Indonesia 16/03/13 yang lalu.

Dahulu fotografi bisa dibilang merupakan sesuatu hal yang mewah, karena orang yang mau foto atau ke studio foto hanyalah kalangan berduit saja. Dan memang benar-benar membutuhkan untuk difoto, bukan membutuhkan foto.

Sekitar awal era digital 2003-2005, mulailah dunia fotografi digital diminati. Bahkan sudah banyak masyarakat umum tanpa batasan umur sudah mempunyai sebuah kamera, baik kamera ponsel, kamera saku maupun kamera dslr.

Jangankan tempat publik, berkembangnya dunia fotografi khususnya makin banyaknya hunting bersama membuat beberapa lingkungan masyarakat  yang menjadi tujuan hunting beberapa kadang merasa aneh,  risih atau mempunyai rasa was-was karena menjadi sebuah objek foto. Hingga akhirnya sekarang ini banyak yang mempunyai tarif mendadak, bukan hanya di tempat publik saja bahkan orang sekitar pun meminta bayaran karena merasa sudah menjadi objek foto.

Saya fikir hal ini terjadi karena komunikasi yang sering tidak terjalin dengan baik ketika seseorang memotret atau ketika hunting foto. Tanpa menjelaskan tujuan kita mengambil gambar sudah pasti mereka akan merasa risih jika menjadi objek foto tanpa basa basi (kecuali candid, karena si objek biasanya tidak mengetahui kalau sedang difoto). Beberapa teman terbiasa memberikan fee atau sekedar uang rokok setelah memotret. Bahkan ada yang memang untuk mengikuti sebuah lomba foto, temen-temen terlalu baik memberikan fee lebih.

Hal ini akhirnya menjadi omongan publik sana-kemari katak kata orang jawa gethuk-tular, merambah kemana-mana, menular karena banyak yang ngomongin . Akhirnya secara tidak langsung tarif-tarif ini bermunculan seiring waktu. Imbasnya adalah kepada temen-temen yang sedang ingin belajar fotografi dengan baik. Belum apa-apa saat memotret sudah dipalakin oknum, pengalaman saya sih biasanya sama keamanan setempat, satpam.

Memang sekarang sudah banyak orang dan tempat yang menjadi objek foto ini mempunyai tarif berdasar info kabar burung alias omongan orang. Sudah hampir semua public area sekarang berbayar. Bahkan saya pernah ditodong uang keamanan saat memotret prewed di jalan raya, jalan umum yang saat itu banyak sekali orang berkendara dan berjalan kaki.

Di beberapa tempat terutama restoran yang awalnya ikut-ikutan bermain tarif ini sudah memahami, bahkan ada yang berbaik hati agar tempatnya dijadikan lokasi pemotretan. Selain menarik pengunjung juga secara tidak langsung fotografer dan model akan membeli makanan yang ada. Tetapi ada juga restoran yang hanya memberikan tarif foto jika tempatnya dijadikan lokasi pemotretan. Padahal tanpa memberi tarif pun kita para pehobi/profesional foto secara tidak langsung memberikan efek promosi yang lumayan mengundang masa untuk meramaikan tempat tersebut.

Memotret alam / rumah tua pun sekarang bayar. Alih-alih untuk perawatan dan pemeliharaan. Halahhhh banget deh, terlihat taman rumput dan tanamannya banyak yang kurang terawat termasuk bangunanya. Bilang aja untuk perawatan diri sendiri buat ke salon ben wangi rapi wekekekeke….

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *