IBX5820939B7836E

Eksotisme Kawasan Dieng Plateau

Published by Fiandigital ™

Telaga Warna dari Bukit Kendil

Walau akhir-akhir ini sedikit santer pemberitaan bawah kondisi Kawasan Dieng sedang siaga satu karena asap beracun. Saya dan kawan-kawan dari Semarang dan Surabaya sudah mantab untuk pergi kesana, karena selalu update info dari teman jurnalis dan pengusaha di daerah Wonosobo, mereka mengatakan bahwa kondisi aman dan lokasi asap beracun yaitu Kawah Timbang ini cukup jauh dari lokasi wisata yang menjadi tujuan kami. Sedangkan tujuan kami antara lain adalah Gunung Prau, Telaga Warna, Kawah Sikidang dan Bukit Semurup. Memang kadang media itu kurang imbang dalam memberitakan dan ini merugikan bagi perekonomian kawasan wisata setempat.

Hari pertama,  Jumat malam (29/03/2013) rombongan dari Surabaya sudah datang dan bertemu dengan koordinatornya, Pak Jemmy Efendy, beliau kayaknya pembimbing mapala di Petra Christian University.  Dari Surabaya mereka naik bus, dan kumpul di sekitar Simpang Lima Semarang. Akhirnya mereka berangkat menuju Dieng dengan menggunakan mobil sewa. Sedangkan saya paginya sudah berangkat mendahului mereka karena bawa mobil sendiri dan hanya berdua, supaya tidak terlalu lelah nantinya dan santai di perjalanan hehe.

Makan Malam Istimewa di Homestay Pak Mujito

Setelah kurang lebih tiga jam perjalanan melewati hujan yang cukup deras, akhirnya sampai juga di Kawasan Candi Arjuna. Kabut dan hujan yang kadang berhenti kadang deras ini cukup menutupi Kawasan Candi Arjuna hingga membuat saya tidak bisa memotret dengan maksimal. Sambil menunggu rombongan yang berangkat dari Semarang, saya dan teman saya sejenak istirahat sambil ngopi dan menikmati tempe mendoan goreng di warung samping tempat parkir Candi Arjuna.

Ngobrol sana sini akhirnya kami memutuskan untuk stay di homstay saja. Untung bertemu dengan mas Suryan, dia biasa jadi guide dan rumahnya biasa dijadikan home stay oleh tamunya. Rate home stay disana berkisar 100-250 ribu. Itu semua sudah termasuk makan dengan menu rumahan, minuman kopi atau teh panas, plus mandi air hangat.

Saya pun kemudian sepakat dan menginap di homestay Pak Mujito, masih saudaranya mas Suryan. Kami sampai di homestay sekitar pukul 19.00, ngobrol sebentar perkenalan dengan Pak Mujito dan istri sambil menikmati kopi dan dinginnya kabut yang menyelinap masuk ke dalam rumah, akhirnya Bu Mujito membuatkan kami makan malam. Menunya istimewa yang cocok dihidangkan saat suasana memang sangat dingin. Indomie godok dengan sayur jamur pedas plus telor dadar, mantab jaya bro… Jamur kancing yang fresh dipetik dari kebun tak jauh dari rumah homestay ini benar-benar segar di mulut, yummy sekali. Bumbu pedas dan  kuah panas yang ngecemek (tidak terlalu banyak) ini membuat saya nambah hehehe.. Selain menghangatkan badan juga untuk stamina agar tidak lemas nanti bangun jam 03.00 pagi untuk hunting sunrise.

Candi Arjuna

Kawasan Candi Arjuna

Malam semakin dingin dan terasa lama diperkampungan sepi ini membuat saya ingin beraktifitas, saya tidak betah di kamar karena dingin yang luar biasa. Kemudian saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Candi Arjuna, sekedar melihat nuansa malamnya dan sedikit memotretnya. Ditemani mas Suryan saya menuju ke Candi Arjuna. Perlahan kabut dan hujan yang bertahan dari sore hingga malam itu pun mulai menghilang. Berbekal sebuah senter, saya dan teman saya berjalan menyusuri setapak yang gelap, hanya cahaya bulan yang tersingkap dari balik awan mendung. Akhirnya pertemuan budaya yang terbalut alam ini benar-benar eksotis, beberapa candi di kawasan Candi Arjuna dibalut tipisnya kabut, tampak indah tersorot lampu dari sudut-sudut candi.

Tak pikir panjang, saya dan teman saya segera mengabadikan moment ini. Kapan lagi coba, hampir tengah malam dan berkabut, ditengah kawasan candi hehe. Awalnya sebenrnya saya ingin memotret bintang dengan memadukan candi sekitar, tapi apa daya langit belum mendukung kita, kabut dan gerimis kadang silih berganti menutupi candi. Yah, akhirnya saya mendapatkan beberapa gambar walau belum begitu puas hehe. Kami pulang dan istirahat agar keesokan harinya siap hunting sunrise.

Hari kedua, kami memutuskan tidak bergabung dengan rombongan dari Surabaya, karena jalur yang diambil untuk pendakian mereka terlalu jauh dari tempat kami menginap. Kami memilih beda jalur dan beda tujuan dan akhirnya sampai pulang pun kami tidak bertemu. Setelah bangun agak kesiangan dan langsung packing, sekitar pukul 05.00 pagi perjalanan saya awali dari Kawasan Candi Arjuna lagi untuk melihat sunrise. Tepatnya dari Candi Arjuna atau Museum Kaliasa langsung ambil ke kiri jalan naik. Kami melihat sunrise dari atas jalan tersebut. Sunrise yang indah tersebut perlahan muncul dari balik Bukit Sikunir, menyinari menghangatkan dan mencairkan embun yang menyelimuti kehidupan di sekitarnya. Foto-fotonya bisa teman-teman lihat di gallery landscape saya ya hehe.

Museum Kaliasa

Museum Kaliasa

Dari hunting sunrise ini kemudian saya menuju Telaga Warna, tapi dengan view yang berbeda. Saya menuju Bukit Kendil di samping Telaga Warna, jalur pendakiannya tidak terlalu sulit, hanya 30 menit jalan kita sudah sampai di atas. Pemandangan disini cukup bagus, kita bisa melihat Telaga Warna seutuhnya, refleksi warna hijau yang fenomenal ini terlihat indah. Saya langsung ambil kamera dan mengabadikannya dengan mode panorama. Cukup indah dan layak dikunjungi. Jika beruntung, anda bisa melihat burung elang yang terbang di kawasan ini. Dan saya beruntung, cuman sayang kami tidak mengabadikan karena terpana melihat elang yang cukup cantik terbang rendah diatas kami hehe.

Tak ingin kesiangan dan hujan kembali mengguyur, dari Telaga Warna kami bergegas menuju Kawah Sikidang. Cukup menarik, di samping hamparan tumbuhan berwarna merah dan cemara, bahkan rerumputan. Kawah utama ini terletak di sisi sebelah kiri, untuk menuju kesana pun kita sudah melewati kawah-kawah kecil. Jika tidak membawa kamera pribadi disana banyak jasa foto langsung print, jadi tak usah khawatir jika ingin foto bersama keluarga, pacar atau sahabat saat disana. Saya sendiri hanya mengambil beberapa gambar landscape karena cuaca memang kurang bagus dan baterai kamera saya pun habis wekekekekeke.

Kawah Sikidang

Kawah Sikidang

Akhirnya hujan deras kembali mengguyur kawasan ini, saya memutuskan pulang. Eh tapi sebelum pulang, saya beli manisan buah Carica. Menurut teman saya rasanya segar dan enak diminum saat siang hari panas atau sore hari. Saya beli manisan ini dua kemasan saja, takut tidak doyan maka saya tidak beli terlalu banyak, soalnya saya tidak terlalu suka manisan hehe, kalau cewek manis beda lagi lho ya wekekeke.. :p

OK, saya pulang, dan sampai rumah, sama seperti saat berangkat, kami menuju semarang melewati hujan deras. Sampai rumah saya langsung coba buah carica ini, ternyata manisan atau sirup ini enak, wahh tahu gitu saya beli lima kemasan atau berapa gitu, seger tenan je.. 😀

Yah, begitulah teman-teman trip singkat saya ke Kawasan Dieng, sebenarnya masih banyak tujuan wisata disana. Sekitar Juli-Agustus saya berencana ke sana lagi untuk camping di Gunung Prahu, melihat beberapa Air Terjun, Danau Kecebong, dll termasuk melihat acara budayanya. Menurut info berikut agendanya dalam waktu terdekat.

Yuk kesana.. 🙂

 

DIENG CULTURE FESTIVAL

Setiap tahun , acara DIENG CULTURE FESTIVAL siap digelar sekitar  Bulan Juni – Juli – Agustus. Garis besar Susunan Acara hampir sama dengan DIENG CULTURE FESTIVAL tahun lalu, yaitu di isi dengan arak-arakan anak rambut Gimbal menggunakan kereta kuda  Keliling desa Dieng, Upacara pemotongan rambut Gimbal, Serta Pelarungan pelarungan Potongan rambut Gimbal ke Telaga.

Acara ini dimeriahkan oleh rangkaian pentas seni yang dibawakan oleh seniman Lokal seperti Tari Lengger, Tek-tek (Gelaran Musik tradisional dari Bambu), kesenian Rampak Yaksa dan sebagainya.

FESTIVAL SERAYU

Acara ini juga diadakan setiap tahunnya sekitar bulan Juli-Agustus ini berisi gelaran beragam seni budaya yang akan diadakan selama seminggu penuh. Selain acara Kesenian,  FESTIVAL SERAYU  juga  dimeriahkan dengan lomba-lomba lain seperti Lomba Fotografi, Lomba Seni Modern dan lain-lain. Acara ini memiliki target besar kunjungan wisata hingga 150 ribu orang wisatawan domestik dan 1000 wisatawan Mancanegara.

Eksotisme Kawasan Dieng Plateau
Rate this post

Share

1 Response to “Eksotisme Kawasan Dieng Plateau”

Leave a Comment

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.