Pilihan Lokasi Landscape Candi Borobudur

Candi Brobudur
Candi Borobudur dari Bukit Menoreh Hotel Amanjiwo

Menghargi Semesta dan Melestarikan Alam Melalui Fotografi Landscape

Menjelang Hari Raya Waisak dari tahun ke tahun memang jadi pembicaraan hangat untuk kalangan fotografer. Terutama untuk menentukan dimana saja kita akan memotret setelah atau sebelum acara Waisak dimulai.

Sebenernya banyak lokasi atau spot foto yang menampilkan secara visual keindahan landscape dari Candi Borobudur ini.

Salah satunya adalah Puthuk Stumbu, lokasi ini sudah sangat umum dan menjadi tujuan utama para turis asing maupun lokal terutama yang hobi fotografi. Hamparan pemandangan alam yang memperlihatkan keindahan Gunung Merbabu dan Merapi yang dibalut cahaya keemasan saat sunrise muncul dari balik gunung tersebut,  lokasi ini memperlihatkan kemegahan Candi Borobudur dari atas jika dilihat dengan seksama. Bila beruntung, kita bisa menyaksikan layer-layer kabut tipis tersinari mentari pagi yang perlahan terbawa angin melewati Candi Borobudur ini. Sungguh pemandangan yang mengagumkan.

Candi Borobudur dari Puthuk Stumbu
Candi Borobudur dari Bukit Menoreh atas Hotel Amanjiwo

 

Untuk sekarang, setelah sekitar lebih kurang 6-7 tahun dimana fotografi mulai digemari bahkan menjamur tanpa batasan umur, lokasi Puthuk Stumbu ini menjadi spot sejuta umat oleh pehobi fotografi. Hampir semua pelaku fotografi ingin dan pernah memotret di lokasi ini. Nah disini, saya akan berbagi beberapa lokasi alternatif yang mungkin teman-teman tertarik mengunjunginya kapan saja hehe. Eh iya, bisa juga jadi lokasi alternatif melihat pesona keindahan cahaya lampion yang dinyalakan dan bertebaran di atas langit Candi Borobudur saat Waisak nanti loh, dari pada berdesak-desakan dan mengganggu khusyuknya yang lagi beribadah di Candi Borobudur hehehe.

Berikut beberapa info lokasi, baik secara umum bebas tiket murah (sekedar parkir) dan lokasi yang komersial dengan tiket cukup mahal.

Kawasan di Seputar Candi Borobudur
Kawasan di Seputar Candi Borobudur by borobudurheritagevillage.com

Lokasi Spot Foto Landscape Candi Borobudur (Umum)

1. Puthuk Stumbu

Jalur ke arah Puthuk Stumbu sebenernya mudah, dari Candi Borobudur ambil arah kiri ke Hotel Manohara, sekitar 300 meter belok ke gapura kanan jalan, dari sini lurus saja mengikuti petunjuk yang sudah dipadang walau agak tidak kelihatan. Karena harus melewati perempatan memang kadang bisa membuat nyasar. Tipsnya selain pakai aplikasi gps, tanya warga sekitar, atau menggunakan jasa guide yang 24 jam nongkrong di ATM Mandiri atau Warung Kucingan di depan Candi Borobudur. Di lokasi ini saya sarankan menggunakan tele lens minimal 200mm.

2. Sawah di Pinggir Candi Borobudur

Lokasi ini cukup dekat dengan Candi Borobudur, sekitar 500 meter arah Puthuk Stumbu dari Candi Borobudur.

3. Desa Wisata Karanganyar, Sunrise

Tepatnya di sekitar Dusun Klipoh, daerah Pusat Pengrajin Gerabah 5-6 KM dari Kawasan Candi Borobudur. Nah untuk kesini arahnya dari Hotel Manohara lurus saja naik terus mengikuti jalan tersebut, nanti akan ketemu dengan SD di kiri jalan (saya lupa nama SDnya, nanti saya update ya hihihi) Nah, dari SD langsung belok kanan masuk gang, lurus saja sekitar 3 KM nanti akan sampai di perempatan Gunden Desa Karanganyar langsung ambil kanan. Jalan perlahan sekitar 50-100 meter sambil melihat ke arah kanan, akan tampak view Candi Borobudur dengan posisi searah pandangan mata. Untuk lokasi ini saya sarankan untuk menggunakan tele lens minimal 200mm. Dan jika kita lurus sekitar 500 meter, di sanalah letak Pengrajin Grabah. Bisa jadi obyek foto menarik juga.

4. Jalur menuju Desa Wisata Karanganyar

Tempat ini sebenarnya di pinggir jalan saat kita akan menuju Dusuh Klipoh lokasi Pengrajin Gerabah, yah sekitar tengah-tengah perjalanan lah, sering-sering saja melihat ke arah kanan belakang, nanti akan menemukan pemandangan Candi Borobudur tersebut, lokasi tepatnya adalah di kiri jalan ada bengkel motor kecil. Tinggal parkir di sana dan sedikit turun ke sawah hehe. Dari sini saya sarankan memakai tele lens minimal 200mm.

5. Bukit Menoreh

Lokasi ini cukup jauh, dan bisa saya bilang ini adalah jalan mentok dan paling mudah rutenya. Dari Hotel Manohara lurus saja mengikuti jalan sekitar 7 KM, setelah jalan mulai menyempit, dikanan jalan ada mushola. Lurus saja naik dan sampai jalan aspal ini habis. Langsung saja parkir di kiri jalan ada sebuah lapangan kecil, kemudian jalan kaki naik sekitar 500 meter saja nanti akan bertemu gardu pandang untuk melihat pemandangan Candi Borobudur ini dari atas. Disini saya juga menyarankan untuk menggunakan tele lens minimal 200mm.

6. Rumdin DPU

Nah, lokasi ini kita lewati sebelum sampai ke Bukit Menoreh atasnya Hotel Amanjiwo. Dan saat Waisak, Rumdin DPU yang sudah tidak lagi menjadi perkantoran ini biasa disewa oleh rombongan walubi untuk menginap, dan menerima umum dengan tarif per kamar 250 ribu semalam.

7. Pos Mati

Pos Mati berada di sebuah puncak bukit di Desa Giritengah, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, di tempat yang dahulu digunakan oleh pasukan Pangeran Diponegoro sebagai pos pengintaian saat berlangsungnya Perang Jawa (1925 – 1930). Peninggalan sang pangeran saat ini juga masih ada selain Pos Mati, yaitu berupa Balai Kambang dan Sendang Suruh.

Lokasinya berada di ujung selatan Kecamatan Borobudur, sekitar 5 km ke arah Barat Daya dari Candi Borobudur. Untuk menuju lokasi, pejalan bisa naik ojek dari Terminal atau Pasar Borobudur. Kendaraan pribadi bisa menggunakan rute Desa Tunjungsari – Desa Karanganyar, lalu belok kiri di perempatan Gunden Desa Karanganyar atau perempatan yang sama dengan lokasi Pengrajin Gerabah di atas.

8. Phutuk Sukmojoyo

Phuntuk sukmojoyo merupakan bukit yang berada di jajaran perbukita menoreh, letaknya berada di belakang candi borobudur. Berada tepat setelah Pos mati dan Punthuk setumbu yang terkenal dengan keindahan Sunset dan sunrise dengan pemandangan alam dan candi borobudurnya. Untuk ke Puntuk sukmojoyo anda cukup, pergi ke arah candi borobudur, lokasinya berada pada 5-6 km selatan candi borobudur

Lokasinya berada di ujung selatan Kecamatan Borobudur, sekitar 5 km ke arah Barat Daya dari Candi Borobudur. Rutenya masih sama ke arah Desa Karanganyar, lalu belok kiri di perempatan Gunden, Desa Karanganyar atau perempatan yang sama dengan lokasi Pengrajin Gerabah di atas.

9. Puncak Suroloyo

Puncak tertinggi di Pegunungan Menoreh pada bagian utara. Puncak Suroloyo ini terletak di Keceme, desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, 45 km dari Yogyakarta. Yang sesungguhnya berada pada perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta, untuk mencapai puncak suroloyo ada 2 rute yang bisa dilewati untuk menuju suroloyo, yaitu dari jogjakarta- Godean-Kenteng-Naggulan-Dekso-Samigaluh-Suroloyo, selain itu juga bisa melewati Jogjakarta-Minggir-Dekso-Boro-Kalibawang-Sidoharjo-Suroloyo, kedua rute tersebut membutuhkan waktu 1,5jam hingga 2 jam untuk sampai ke suroloyo.  Untuk rute pertama, kodisi jalan agak buruk, berkelok dan tanjakannya cukup tinggi. Rute kedua dengan kondisi jalan lumayan bagus, aspalnya tidak banyak yang rusak, namun masih dengan tanjakan dan turunan yang ekstrim. Disini saya juga menyarankan untuk menggunakan tele lens minimal 200mm.

Pemandangan Lampion Waisak dari jalur menuju Desa Pengrajin Gerabah
Pemandangan Lampion Waisak dari jalur menuju Desa Pengrajin Gerabah

Lokasi Spot Foto Landscape Candi Borobudur (Komersil)

1. Borobudur Sunrise-Sunset (tiket via Hotel Manohara)
2. Center Sunset Siluet Stupa Borobudur (taman sekitar Hotel Manohara)
3. Bukit Dagi (Tiket via Manohara)
4. Borobudur Sunrise, Plataran (tiket via Hotel Plataran)
5. Borobodur Sunrise, Amanjiwo (tiket via Hotel Amanjiwo)

Nah, itulah beberapa lokasi landscape Candi Borobudur baik untuk berwisata menikmati kehangatan sunrise ataupun menjadi lokasi foto landscape favorit yang saya ketahui. Sebenernya masih ada satu lokasi lagi yang ditemukan, dan dipublish secara umum, nanti kalau saya sudah mendapat akses itu akan saya bagi lagi di sini hehehe…

Candi Borobudur dari Persawahan menuju Desa Pengrajin Gerabah
Candi Borobudur dari Persawahan menuju Desa Pengrajin Gerabah

 

Silahkan tentukan lokasi yang menurut kalian cukup oke, baik dari segi waktu, jarak dan tentu saja biaya. Lokasi komersil yang rata-rata aksesnya melalui hotel-hotel tersebut tarifnya bermacam-macam tergantung musim kunjungan, liburan, wekkend atau anda justru bertemu calo yang kurang bersahabat dalam menawarkan harga hehe. Sedikit informasi yang saya dapat, untuk ke lokasi-lokasi tersebut biayanya sekitar 150 ribu – 300 ribu (tanpa menginap). Nah kalau menginap di hotel-hotel tersebut pasti ada diskon atau bahkan sudah include satu paket biaya menginap serta sunrise-sunsetnya.

Landscape Merapi-Merbabu dari Puthuk Stumbu
Landscape Merapi-Merbabu dari Puthuk Stumbu

 

Oh iya, sekalian ada sedikit himbauan nih…, khususnya kepada rekan-rekan pecinta fotografi di seluruh nusantara yang ingin mengabadikan momen-momen di Perayaan Waisak dan tentu saja perayaan hari raya umat beragama lainnya. Mohon agar bisa mengendalikan diri, menghargai dan menjaga etika di lokasi agar tercipta kekhusyukan ibadah semua umat beragama sekaligus membangun citra baik fotografi Indonesia di mata dunia dan tentunya .

Jagalah alam dan bawalah diri kita sebaik niat kita dalam mengabadikan sebuah momen. Dan buanglah etika buruk kita agar dipertemukannya kita terhadap cara-cara menghargai alam dan kehidupan sekitar.  Tanpa merusak atau mengubah apapun yang semestinya.

Candi Borobudur dari Puthuk Stumbu
Candi Borobudur dari Puthuk Stumbu

*Semua informasi akan selalu saya update setelah saya kembali menelusuri lagi tempat-tempat terkini di Kawasan Seputar Candi Borobudur.

 

______________________________________________

dieng 2d1n   dieng 1dt

 

Eksotisme Kawasan Dieng Plateau

Telaga Warna dari Bukit Kendil

Walau akhir-akhir ini sedikit santer pemberitaan bawah kondisi Kawasan Dieng sedang siaga satu karena asap beracun. Saya dan kawan-kawan dari Semarang dan Surabaya sudah mantab untuk pergi kesana, karena selalu update info dari teman jurnalis dan pengusaha di daerah Wonosobo, mereka mengatakan bahwa kondisi aman dan lokasi asap beracun yaitu Kawah Timbang ini cukup jauh dari lokasi wisata yang menjadi tujuan kami. Sedangkan tujuan kami antara lain adalah Gunung Prau, Telaga Warna, Kawah Sikidang dan Bukit Semurup. Memang kadang media itu kurang imbang dalam memberitakan dan ini merugikan bagi perekonomian kawasan wisata setempat.

Hari pertama,  Jumat malam (29/03/2013) rombongan dari Surabaya sudah datang dan bertemu dengan koordinatornya, Pak Jemmy Efendy, beliau kayaknya pembimbing mapala di Petra Christian University.  Dari Surabaya mereka naik bus, dan kumpul di sekitar Simpang Lima Semarang. Akhirnya mereka berangkat menuju Dieng dengan menggunakan mobil sewa. Sedangkan saya paginya sudah berangkat mendahului mereka karena bawa mobil sendiri dan hanya berdua, supaya tidak terlalu lelah nantinya dan santai di perjalanan hehe.

Makan Malam Istimewa di Homestay Pak Mujito

Setelah kurang lebih tiga jam perjalanan melewati hujan yang cukup deras, akhirnya sampai juga di Kawasan Candi Arjuna. Kabut dan hujan yang kadang berhenti kadang deras ini cukup menutupi Kawasan Candi Arjuna hingga membuat saya tidak bisa memotret dengan maksimal. Sambil menunggu rombongan yang berangkat dari Semarang, saya dan teman saya sejenak istirahat sambil ngopi dan menikmati tempe mendoan goreng di warung samping tempat parkir Candi Arjuna.

Ngobrol sana sini akhirnya kami memutuskan untuk stay di homstay saja. Untung bertemu dengan mas Suryan, dia biasa jadi guide dan rumahnya biasa dijadikan home stay oleh tamunya. Rate home stay disana berkisar 100-250 ribu. Itu semua sudah termasuk makan dengan menu rumahan, minuman kopi atau teh panas, plus mandi air hangat.

Saya pun kemudian sepakat dan menginap di homestay Pak Mujito, masih saudaranya mas Suryan. Kami sampai di homestay sekitar pukul 19.00, ngobrol sebentar perkenalan dengan Pak Mujito dan istri sambil menikmati kopi dan dinginnya kabut yang menyelinap masuk ke dalam rumah, akhirnya Bu Mujito membuatkan kami makan malam. Menunya istimewa yang cocok dihidangkan saat suasana memang sangat dingin. Indomie godok dengan sayur jamur pedas plus telor dadar, mantab jaya bro… Jamur kancing yang fresh dipetik dari kebun tak jauh dari rumah homestay ini benar-benar segar di mulut, yummy sekali. Bumbu pedas dan  kuah panas yang ngecemek (tidak terlalu banyak) ini membuat saya nambah hehehe.. Selain menghangatkan badan juga untuk stamina agar tidak lemas nanti bangun jam 03.00 pagi untuk hunting sunrise.

Candi Arjuna
Kawasan Candi Arjuna

Malam semakin dingin dan terasa lama diperkampungan sepi ini membuat saya ingin beraktifitas, saya tidak betah di kamar karena dingin yang luar biasa. Kemudian saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Candi Arjuna, sekedar melihat nuansa malamnya dan sedikit memotretnya. Ditemani mas Suryan saya menuju ke Candi Arjuna. Perlahan kabut dan hujan yang bertahan dari sore hingga malam itu pun mulai menghilang. Berbekal sebuah senter, saya dan teman saya berjalan menyusuri setapak yang gelap, hanya cahaya bulan yang tersingkap dari balik awan mendung. Akhirnya pertemuan budaya yang terbalut alam ini benar-benar eksotis, beberapa candi di kawasan Candi Arjuna dibalut tipisnya kabut, tampak indah tersorot lampu dari sudut-sudut candi.

Tak pikir panjang, saya dan teman saya segera mengabadikan moment ini. Kapan lagi coba, hampir tengah malam dan berkabut, ditengah kawasan candi hehe. Awalnya sebenrnya saya ingin memotret bintang dengan memadukan candi sekitar, tapi apa daya langit belum mendukung kita, kabut dan gerimis kadang silih berganti menutupi candi. Yah, akhirnya saya mendapatkan beberapa gambar walau belum begitu puas hehe. Kami pulang dan istirahat agar keesokan harinya siap hunting sunrise.

Hari kedua, kami memutuskan tidak bergabung dengan rombongan dari Surabaya, karena jalur yang diambil untuk pendakian mereka terlalu jauh dari tempat kami menginap. Kami memilih beda jalur dan beda tujuan dan akhirnya sampai pulang pun kami tidak bertemu. Setelah bangun agak kesiangan dan langsung packing, sekitar pukul 05.00 pagi perjalanan saya awali dari Kawasan Candi Arjuna lagi untuk melihat sunrise. Tepatnya dari Candi Arjuna atau Museum Kaliasa langsung ambil ke kiri jalan naik. Kami melihat sunrise dari atas jalan tersebut. Sunrise yang indah tersebut perlahan muncul dari balik Bukit Sikunir, menyinari menghangatkan dan mencairkan embun yang menyelimuti kehidupan di sekitarnya. Foto-fotonya bisa teman-teman lihat di gallery landscape saya ya hehe.

Museum Kaliasa
Museum Kaliasa

Dari hunting sunrise ini kemudian saya menuju Telaga Warna, tapi dengan view yang berbeda. Saya menuju Bukit Kendil di samping Telaga Warna, jalur pendakiannya tidak terlalu sulit, hanya 30 menit jalan kita sudah sampai di atas. Pemandangan disini cukup bagus, kita bisa melihat Telaga Warna seutuhnya, refleksi warna hijau yang fenomenal ini terlihat indah. Saya langsung ambil kamera dan mengabadikannya dengan mode panorama. Cukup indah dan layak dikunjungi. Jika beruntung, anda bisa melihat burung elang yang terbang di kawasan ini. Dan saya beruntung, cuman sayang kami tidak mengabadikan karena terpana melihat elang yang cukup cantik terbang rendah diatas kami hehe.

Tak ingin kesiangan dan hujan kembali mengguyur, dari Telaga Warna kami bergegas menuju Kawah Sikidang. Cukup menarik, di samping hamparan tumbuhan berwarna merah dan cemara, bahkan rerumputan. Kawah utama ini terletak di sisi sebelah kiri, untuk menuju kesana pun kita sudah melewati kawah-kawah kecil. Jika tidak membawa kamera pribadi disana banyak jasa foto langsung print, jadi tak usah khawatir jika ingin foto bersama keluarga, pacar atau sahabat saat disana. Saya sendiri hanya mengambil beberapa gambar landscape karena cuaca memang kurang bagus dan baterai kamera saya pun habis wekekekekeke.

Kawah Sikidang
Kawah Sikidang

Akhirnya hujan deras kembali mengguyur kawasan ini, saya memutuskan pulang. Eh tapi sebelum pulang, saya beli manisan buah Carica. Menurut teman saya rasanya segar dan enak diminum saat siang hari panas atau sore hari. Saya beli manisan ini dua kemasan saja, takut tidak doyan maka saya tidak beli terlalu banyak, soalnya saya tidak terlalu suka manisan hehe, kalau cewek manis beda lagi lho ya wekekeke.. :p

OK, saya pulang, dan sampai rumah, sama seperti saat berangkat, kami menuju semarang melewati hujan deras. Sampai rumah saya langsung coba buah carica ini, ternyata manisan atau sirup ini enak, wahh tahu gitu saya beli lima kemasan atau berapa gitu, seger tenan je.. 😀

Yah, begitulah teman-teman trip singkat saya ke Kawasan Dieng, sebenarnya masih banyak tujuan wisata disana. Sekitar Juli-Agustus saya berencana ke sana lagi untuk camping di Gunung Prahu, melihat beberapa Air Terjun, Danau Kecebong, dll termasuk melihat acara budayanya. Menurut info berikut agendanya dalam waktu terdekat.

Yuk kesana.. 🙂

 

DIENG CULTURE FESTIVAL

Setiap tahun , acara DIENG CULTURE FESTIVAL siap digelar sekitar  Bulan Juni – Juli – Agustus. Garis besar Susunan Acara hampir sama dengan DIENG CULTURE FESTIVAL tahun lalu, yaitu di isi dengan arak-arakan anak rambut Gimbal menggunakan kereta kuda  Keliling desa Dieng, Upacara pemotongan rambut Gimbal, Serta Pelarungan pelarungan Potongan rambut Gimbal ke Telaga.

Acara ini dimeriahkan oleh rangkaian pentas seni yang dibawakan oleh seniman Lokal seperti Tari Lengger, Tek-tek (Gelaran Musik tradisional dari Bambu), kesenian Rampak Yaksa dan sebagainya.

FESTIVAL SERAYU

Acara ini juga diadakan setiap tahunnya sekitar bulan Juli-Agustus ini berisi gelaran beragam seni budaya yang akan diadakan selama seminggu penuh. Selain acara Kesenian,  FESTIVAL SERAYU  juga  dimeriahkan dengan lomba-lomba lain seperti Lomba Fotografi, Lomba Seni Modern dan lain-lain. Acara ini memiliki target besar kunjungan wisata hingga 150 ribu orang wisatawan domestik dan 1000 wisatawan Mancanegara.

Punokawan Dalam Sebuah Organisasi

Gambar diambil dari: http://njowo.wikia.com/wiki/Punokawan

Merasakan kala susah dan bahagian dalam semua beban tanggung jawab merupakan bonus kerja keras semua tim. Maka baik korporate maupun komunitas dengan unit yang banyak adalah baik jika struktur pentingnya mengadopsi tokoh “PUNOKAWAN”.
Sebuah kolaborasi berbagai karakter yang mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritisi sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan sebuah kebijakan.

SEMAR. Adalah pusat semua kepemimpinan punokawan. Dengan sifat rendah hati, tidak sombong, jujur, dan tetap mengasihi akan menjadi contoh karakter yang baik. Penuh kelebihan tetapi tidak lupa diri karena kelebihan yang dimiliki. Selalu mendampingi saat melangkah demi realisasinya visi misi.

GARENG. Dengan tangan yang cacat, kaki yang pincang, mata yg juling, melambangkan cipta berikut karakternya yang lucu, konyol dan selalu happy. Menjadi contoh bahwa saat menciptakan sesuatu, dan tidak sempurna, kita tidak boleh menyerah. Bagaimanapun kita sudah berusaha. Apapun hasilnya, tetaplah bersyukur supaya ceria dan pasrahkan segalanya padaNya.

PETRUK. Sebuah karakter dengan pemikiran panjang. Dalam menjalani hidup manusia harus berpikir panjang (tidak grusa-grusu) dan sabar. Bila tidak berpikir panjang, biasanya akan mengalami penyesalan di akhir. Sosok yang melengkapi sifat gareng dengan roso.. kepekaan dan kecerdasan yang mejadikan struktur punokawan semakin sempurna.

BAGONG. Inilah manusia yang sesungguhnya. walau petruk lengkap dengan keindahan dan kesempurnaan, tapi bagong lah yang dianggap sebagai manusia utuh. karena dia memiliki kekurangan. Jadi manusia yang sejati adalah manusia yang memiliki kelebihan dan kekurangan. jadi jangan takut atau malu karena kekurangan kita. karena kekurangan itulah yang menjadikan kita manusia seutuhnya.yang perlu kita pikirkan sekarang adalah, bagaimana meminimalkan kekurangan kita, dan memaksimalkan kelebihan kita. karena bagaimanapun kekurangan dan kelebihan itu tidak bisa kita buang atau kita hilangkan.

Begitulah kira-kira apa yang secara kultur budaya sudah mengajarkan kita bagaimana seharusnya bersikap dalam sebuah lingkungan baik kecil maupun besar. Tidak lain adalah saling berbagi sekaligus mendukung antar peran dalam menjalani kehidupan khususnya dalam hal berorganisasi.

Pesona Pengasapan Kaliasin Semarang

Mangut atau Iwak Manyung. Saya kira teman-teman pecinta kuliner di Semarang familiar dengan lauk sedap ini. Biasanya dimasak dengan bumbu pedas, salah satu masakan khas mangut / manyung ini bisa ditemui Warung Bu Fat di daerah Kelurahan Krobokan, Semarang Barat dan satu lagi langganan saya di daerah Sampangan tepatnya di sebelah kantor kelurahan atau seberangnya Sate Widodo, warung ini punya cabang di Jl Kiai Saleh kalau tidak salah.

Nah, tahu tidak ikan yang dimasak khas ini pengolahan pertamanya dimana?

Pengasapan Kali Asin, Bandarharjo Semarang Utara

dieng 1dtDi tempat yang berdampingan dengan sungai yang kadang masih kena rob inilah berbagai tahap proses pengasapan ikan dilakukan.  Ditandai dengan kepulan-kepulan asap yang tampak dari cerobong-cerobong rumah bambu dengan bentuk yang cukup eksotis ini menandakan pengasapan mangut sedang berjalan.

Saya bertemu dengan ibu fitri, serta ibu jaitun yang sibuk membalik ikan yang sudah cukup matang di tempat pengasapan yang terbuat dari rangkaian kawat. Dengan sedikit obrolan sebelum memotret, ibu fitri menjelaskan bahwa yang diproduksi di pengasapan ini  tidak hanya ikan tongkol dan manyung saja yang bisa diolah menjadi mangut, ikan patin, ikan tuna, dan ikan pari juga diolah di sini.  Dalam sehari produksi mangut kalau ramai bisa mencapai 8 kwintal. Harga satuannya sih cukup seribu saja, tapi kalau per kilo sekitar 30 ribu rupiah. Kalau untuk kepala manyung ya lebih mahal lagi hehe.

Proses Pengasapan Ikan di rumah cerobong asap
Proses Pengasapan Ikan di rumah cerobong asap

Nah, mangut yang telah diasapi ini di sebar ke pemesan, dengan menggunakan motor bak belakang dan motor becak semua pesanan diantar ke daerah pasar dan warung di Semarang dan sekitarnya, juga kepada para pengecer tentunya.

Selain itu Kaliasin adalah salah satu tempat hunting foto yang cukup populer baik dari dalam maupun dari luar Semarang. Banyak para fotografer sengaja datang ke Kaliasin untuk dapat mengabadikan indahnya landscape matahari terbenam diantara deretan rumah cerobong yang eksotis itu. Saya sempat memotret baik human interest maupun landscape di sana, menurut saya cukup eksotis. Saya pun ingin kembali memotret ketika nuansa sore yang indah dengan keemasan langit senja, karena saya belum mendapatkan yang benar-benar eksotis menurut saya.

Akses jalan di kawasan pengasapan ikan sudah dibenahi dan bebas rob
Akses jalan di kawasan pengasapan ikan sudah dibenahi dan bebas rob

Daerah ini terkenal karena rob nya, tapi keadaan ini sebentar lagi akan membaik. Terakhir minggu lalu saya kesana, jalan berikut talud di sekitar rumah pengasapan ini sudah dibenahi, tanah ditinggikan dipadatkan dan rencana akan dipaving dalam minggu-minggu ini.

Semoga dengan perbaikan tersebut, membuat akses dan pengelolaan mangut tradisional ini semakin berkembang, baik dari sisi pengolahan, pemesanan hingga    penjualan.

Nah, sebelum pulang, saya sempat memberikan foto yang saya cetak kepada ibu jaitun sebagai kenang-kenangan karena dulu pertama saya ke sini saya memotret beliau. Alhamdulilah diterima dengan senang hati. Indahnya berbagi ya hehehe..

 


Lihat Petunjuk Menuju Kawasan Kaliasin Semarang di peta yang lebih besar

Menghargai Alam Sekitar via Fotografi

Setiap hobi atau kesukaan pasti beda-beda dan mempunyai alasan idealis masing-masing.

Jika boleh merasakan, ketika saya melukis cahaya landscape atau seputar alam melalui kamera, itu tak beda seperti orang yang suka / hobi menulis. Karena seperti halnya tarian pena di atas daun lontar atau jemari di atas keyboard, endingnya hanya keindahan dan kedamaian yang tergores melantunkan makna.

Saya menemukan, dalam fotografi landscape, dan human interest ini bukan sekedar memotret saja. Tetapi kita lebih dipertemukannya terhadap cara menghargai alam dan kehidupan sekitar.

Tanpa merusak atau mengubah yang semestinya.

Berangkat
Berangkat

E-KTP: Penting dan Semoga Aman Database Diri Kita

ilustrasi dari tribunnews.com

Terlepas dari pentingnya sebuah e-KTP, beberapa teman saya ada yang sampai sekarang tidak mau membuat e-KTP karena berfikir ini tidak lepas dari proyek intelejen Amerika. Ah mungkin karena dia sering menonton film spionase atau membaca buku konspirasi hehe. Dan ketika saya googling, eh lha kok ada sebuah blog yang mengulas hal tersebut. Tapi buat saya itu tidak masalah, namanya saja opini.

Dan kemarin, e-KTP saya sudah jadi. Bentuknya biasa saja ternyata, saya kira akan ada sebuah chip yang ditanamkan dalam sebuah kartu kependudukan tersebut. Ternyata hanya sebuah label hologram bertuliskan KTP di belakang kartu, mungkin untuk memberikan tanda keaslian.

Kemudian saya bertanya, apa bedanya dengan kartu lama dan kemana segala rekam data itu tersimpan?

Banyak kasus kesalahan cetak e-KTP di berbagai daerah, banyak pula kasus belum dibayarkannya biaya cetak kepada perusahaan yang memenangkan tender pengadaan, dan kasus-kasus lainnya terkait pengadaan kartu tanda penduduk ini. Kalau tender dengan biaya APBN memang ada saja persoalan, saya pribadi pernah memenangkan beberapa tender pengadaan pemerintah dan pencairannya tidak semudah yang saya bayangkan, padahal kalau kita terlambat pengerjaan tender akan kena denda sesuai undang-undang bahkan bisa kena black list atau putus kontrak ditengah jalan. Intinya kalau anda ingin bermain tender dengan dana APBD itu pengerjaannya tidak boleh terlambat dan salah tapi pembayaran mereka “boleh” diperlambat, apalagi musim pilgub begini biasanya dana APBD terlambat cair karena rawan bila disalahgunakan para politikus, hehe tapi ya itulah lika-liku bisnis. Jalani saja.

Nah, dengan banyaknya kasus tersebut, bagaimana keamanan data yang merekam seluruh rakyat nusantara ini?
Bukan masalah intelejen sih, namun boleh dong kita merasa was-was akan keamanan data kita. Saya ingat ungkapan teman saya bahwa dengan mendaftar e-KTP kita sebenarnya sudah telanjang dan data ketelanjangan kita sudah dipegang oleh pemerintah dan mungkin oknum jika ada kebocoran database saat masih di lingkungan kelurahan.

Kekhawatiran saya berawal ketika menyadari bahwa saat saya mendaftar e-KTP tersebut dilayani oleh siswa smu yang sedang magang di kantor kelurahan. Dan banyak media memberitakan banyak operator proses perekaman data tersebut gaptek bahkan terjadi hilangnya data. Khawatir saya jika masih ada celah untuk meng-copy database e-ktp tersebut oleh oknum saat masih di lingkungan kelurahan, tau sendiri kan di negara kita negosiasi itu sangat mudah hehe… Nah loe…

Rekam retina, tanda tangan, dan semua sidik jari tangan. Semua database diri kita itu sekarang sudah ditangan orang lain. Bukan apa-apa sih, segala sesuatu yang berkaitan dengan registrasi pasti menggunakan sidik jari dan tanda tangan. Seperti akun bank, sim, passport, visa dll. Mungkin era kedepan bisa jadi diperlukan rekam retina. Saya kok malah jadi ikut membayangkan teman saya yang mengapa sampai sekarang tidak mau membuat e-KTP tersebut itu ya hahaha…

Terlepas dari kekhawatiran saya, sambil berdoa semoga database kita aman oleh negara dan pasukan elit hacker indonesia dll di dunia jaringan teknologi ini menjaganya. Karena negara dan kita membutuhkan e-KTP ini. Selain sebagai tanda registrasi kependudukan juga dibutuhkan untuk berbagai kebutuhan. Bayangkan jika kita tidak memiliki kartu tanda penduduk ini. Misal ada ingin membeli rumah, membeli kendaraan, mencari kerja, pergi ke luar negeri, terkena musibah kecelakaan, kehilangan, dll. Semua menggunakan kartu sakti ini.Nah loe.. kalau ga punya e-KTP kita bagaimana coba?

Walau kartu lama yang masih lama masih berlaku (jika masa aktif belum usai) tetap saja dibutuhkan kesadaran untuk membuat e-KTP ini, bukan untuk negara tapi untuk kita sendiri. Apalagi pembuatannya gratis karena dibiayai oleh APBD. Untuk keamanan data juga sudah dijamin oleh Mendagri yang didukung Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg). Yuk yang belum bikin e-KTP segera bikin, trus langsung bikin passport atau e-passport,  siapa tahu dapat rejeki nglayap ke luar negeri tanpa batas hehehe…

Motret Kok Bayar Sih

picture by diebhul
Motret Aja Kok Harus Bayar by Arbain Rambey

Isu yang menggelitik namun menarik bagi para pecinta fotografi terutama pehobi. Motret aja kok bayar sih, demikian ulasan tentang fenomena fotografi yang diangkat oleh senior fotografi Arbain Rambey di Media Bisnis Indonesia edisi Media Cetak Bisnis Indonesia 16/03/13 yang lalu.

Dahulu fotografi bisa dibilang merupakan sesuatu hal yang mewah, karena orang yang mau foto atau ke studio foto hanyalah kalangan berduit saja. Dan memang benar-benar membutuhkan untuk difoto, bukan membutuhkan foto.

Sekitar awal era digital 2003-2005, mulailah dunia fotografi digital diminati. Bahkan sudah banyak masyarakat umum tanpa batasan umur sudah mempunyai sebuah kamera, baik kamera ponsel, kamera saku maupun kamera dslr.

Jangankan tempat publik, berkembangnya dunia fotografi khususnya makin banyaknya hunting bersama membuat beberapa lingkungan masyarakat  yang menjadi tujuan hunting beberapa kadang merasa aneh,  risih atau mempunyai rasa was-was karena menjadi sebuah objek foto. Hingga akhirnya sekarang ini banyak yang mempunyai tarif mendadak, bukan hanya di tempat publik saja bahkan orang sekitar pun meminta bayaran karena merasa sudah menjadi objek foto.

Saya fikir hal ini terjadi karena komunikasi yang sering tidak terjalin dengan baik ketika seseorang memotret atau ketika hunting foto. Tanpa menjelaskan tujuan kita mengambil gambar sudah pasti mereka akan merasa risih jika menjadi objek foto tanpa basa basi (kecuali candid, karena si objek biasanya tidak mengetahui kalau sedang difoto). Beberapa teman terbiasa memberikan fee atau sekedar uang rokok setelah memotret. Bahkan ada yang memang untuk mengikuti sebuah lomba foto, temen-temen terlalu baik memberikan fee lebih.

Hal ini akhirnya menjadi omongan publik sana-kemari katak kata orang jawa gethuk-tular, merambah kemana-mana, menular karena banyak yang ngomongin . Akhirnya secara tidak langsung tarif-tarif ini bermunculan seiring waktu. Imbasnya adalah kepada temen-temen yang sedang ingin belajar fotografi dengan baik. Belum apa-apa saat memotret sudah dipalakin oknum, pengalaman saya sih biasanya sama keamanan setempat, satpam.

Memang sekarang sudah banyak orang dan tempat yang menjadi objek foto ini mempunyai tarif berdasar info kabar burung alias omongan orang. Sudah hampir semua public area sekarang berbayar. Bahkan saya pernah ditodong uang keamanan saat memotret prewed di jalan raya, jalan umum yang saat itu banyak sekali orang berkendara dan berjalan kaki.

Di beberapa tempat terutama restoran yang awalnya ikut-ikutan bermain tarif ini sudah memahami, bahkan ada yang berbaik hati agar tempatnya dijadikan lokasi pemotretan. Selain menarik pengunjung juga secara tidak langsung fotografer dan model akan membeli makanan yang ada. Tetapi ada juga restoran yang hanya memberikan tarif foto jika tempatnya dijadikan lokasi pemotretan. Padahal tanpa memberi tarif pun kita para pehobi/profesional foto secara tidak langsung memberikan efek promosi yang lumayan mengundang masa untuk meramaikan tempat tersebut.

Memotret alam / rumah tua pun sekarang bayar. Alih-alih untuk perawatan dan pemeliharaan. Halahhhh banget deh, terlihat taman rumput dan tanamannya banyak yang kurang terawat termasuk bangunanya. Bilang aja untuk perawatan diri sendiri buat ke salon ben wangi rapi wekekekeke….