Selamat Hari Raya Galungan

Selamat Hari Raya Galungan

Beberapa hari yang lalu, kebetulan saya berada di Bali karena pekerjaan, selama 4 hari 3 malam saya banyak bertemu orang baru termasuk orang asli Bali. Banyak cerita sih, salah satunya kalau sedang ada Hari Raya Galungan begini hampir seluruh aktifitas belajar dan perekonomian berhenti sejenak kecuali pariwisata.

Hari ini (1/11/17) umat Hindu Bali merayakan Hari Raya Galungan yang merupakan perayaan kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan). Hari Raya Galungan ini diperingati setiap 6 bulan sekali dan tidak hanya diperingati oleh umat Hindu Bali yang tinggal di Bali, tapi juga umat Hindu Bali yang merantau di daerah lain.

Saat Hari Raya Galungan masyarakat umum di Bali libur fakultatif selama 3 hari mulai hari Selasa (Penampahan Galungan) sampai dengan hari Kamis (Umanis Galungan) sementara perayaan Galungan sendiri dilaksanakan pada hari Rabu.

Sedangkan untuk anak-anak sekolah di Bali libur 2 minggu, selain libur lokal juga bisa sebagai pengganti libur nasional hari raya idul fitri, karena saat lebaran umat muslim nasional tersebut mereka beraktifitas biasa dan tidak ada libur panjang.

Libur di Hari Raya Galungan ini sama seperti Hari Raya Idul Fitri umat muslim pada umumnya. Mereka yang merantau kembali ke kampung halamannya untuk berkumpul bersama keluarga.

Sayang sekali, saya harus pulang ke Semarang sebelum Hari Raya Galungan. Keindahan upacara adat dan segala aktifitas saat Hari Raya Galungan sebenernya cukup bagus sebagai salah satu tujuan Wisata Terindah di Bali khususnya yang hobi fotografi seperti saya. Tapi apa daya langkah kaki harus melanjutkan kewajiban lain, semoga suatu saat nanti saat Hari Raya Galungan tiba saya bisa kembali ke Bali, menyaksikan sekaligus mengabadikan kearifan lokal yang indah dalam segala keanekaragaman budaya dan agama di Indonesia. Gimana? Mau Join? Hayukkkkk…..

Akhir kata, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Galungan khususnya untuk teman-teman saya di Bali, semoga kita semua diberikan kedamaian dan kebahagiaan.

Rahajeng Rahina Galungan dan Kuningan

Keunikan Melihat Gerhana Matahari 2016

Pakai genteng kaca yang dihanguskan pakai bara api. Foto by: Nurchamim M Ashadi / Jawa Pos Radar Semarang
Anak-anak asyik melihat gerhana melalui media genteng kaca yang dihanguskan bara api. Foto by: Nurchamim M Ashadi

 

Pada 9 Maret 2016, sebagian wilayah di Indonesia sangat beruntung karena dilewati Gerhana Matahari Total (GMT). Walau pernah terjadi beberapa tahun silam, khususnya tahun 1983 yang konon beberapa negara termasuk pemerintah Indonesia saat itu memberikan larangan melihat gerhana matahari secara langsung karena dianggap bahaya atau pertanda buruk. Hingga akhirnya hampir seluruh lapisan masyarakat saat itu tidak berani menyaksikan dan melewatkan fenomena alam ini dengan meninggalkan mitos-mitos tertentu yang dianggap beberapa kalangan masa kini adalah pembodohan publik.

dieng 2d1nKini, justru eforia menyaksikan GMT ini sungguh luar biasa. Kurang lebih 1 minggu sebelumnya, ribuan kicauan status media sosial postingan blog / media umum ramai membahas bagaimana cara melihat dan mengabadikan GMT ini dengan aman. Tak hanya secara umum, saya sebagai penggemar fotografi pun banyak membaca sekilas tips and trick bagaimana cara membuat filter lensa murah meriah agar dapat mengabadikan fenomena alam yang diperkirakan akan terjadi lagi di Indonesia pada tahun 2023.

Koforte misalnya, sebuah komunitas fotografi di Temanggung ini membuat filter lensa dari bahan akrilik yang dilapisi stiker kaca film yang biasa ditempel di kaca mobil, cukup murah meriah dibanding filter kamera profesional yang harganya mencapai jutaan rupiah.

Uniknya, hal ini tak terjadi di kalangan pehobi foto saja tentang bagaimana cara menyaksikan GMT dengan aman, setidaknya jelas terlihat oleh mata normal dengan aman. Masyarakat umum ternyata lebih heboh dengan cara-cara kreatif uniknya menyaksikan fenomena alam ini.

Yuk simak, seunik apa sih… seru loh hahahaha…

1. Genteng Kaca yang Dibakar

GERHANA Hasil pengamatan gerhana dengan genting yang di panasi asap_NURCHAMIM (4)
Pakai genteng kaca yang dihanguskan pakai bara api. Foto by: Nurchamim M Ashadi

2. Negatif film atau klise foto

Filter kamera negatif film atau klise foto. Foto by: akun fb Haryo Gaban
Pakai negatif film atau klise foto. Foto by: instagram renzabambuena

3. Klise foto rontgen bekas

Pakai klise rontgen bekas. foto by: Nurchamim M Ashadi

4. Kotak kemasan susu 

Pakai bekas kotak susu yang ditutup aluminium foil kemudian dilubangi atau teropong lubang jarum. Foto by: Nurchamim M Ashadi

5. Pakai topeng atau kaca mata tukang las

Siswi SMK Pontren Darussalam Kota Demak melihat gerhana matahari total (GMT) dengan alat topeng las disekolahnya. Foto by: Wahib Pribadi

6. Kacamata Kreatif

Kacamata dari kayu dan filter bekas film rontgen. Foto by: akun fb M Talifun

 

Gimana… Keren kan… hahaha….

dieng 1dtItulah eforia kreatifitas yang luar biasa terjadi di Indonesia pada GMT 2016 ini. Nah, yang belum pernah mencoba silahkan mungkin GMT mendatang bisa dipraktekkan. Dan mungkin masih banyak cara unik lainnya. Saya sendiri kemarin juga cuman sekilas memotret menggunakan filter kamera ND8+CPL dan di depan rumah saja gara-gara bangun kesiangan wekekeke… Jadi nggak usah tanya hasil foto saya mana ya.. :p

Punokawan Dalam Sebuah Organisasi

Gambar diambil dari: http://njowo.wikia.com/wiki/Punokawan

Merasakan kala susah dan bahagian dalam semua beban tanggung jawab merupakan bonus kerja keras semua tim. Maka baik korporate maupun komunitas dengan unit yang banyak adalah baik jika struktur pentingnya mengadopsi tokoh “PUNOKAWAN”.
Sebuah kolaborasi berbagai karakter yang mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritisi sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan sebuah kebijakan.

SEMAR. Adalah pusat semua kepemimpinan punokawan. Dengan sifat rendah hati, tidak sombong, jujur, dan tetap mengasihi akan menjadi contoh karakter yang baik. Penuh kelebihan tetapi tidak lupa diri karena kelebihan yang dimiliki. Selalu mendampingi saat melangkah demi realisasinya visi misi.

GARENG. Dengan tangan yang cacat, kaki yang pincang, mata yg juling, melambangkan cipta berikut karakternya yang lucu, konyol dan selalu happy. Menjadi contoh bahwa saat menciptakan sesuatu, dan tidak sempurna, kita tidak boleh menyerah. Bagaimanapun kita sudah berusaha. Apapun hasilnya, tetaplah bersyukur supaya ceria dan pasrahkan segalanya padaNya.

PETRUK. Sebuah karakter dengan pemikiran panjang. Dalam menjalani hidup manusia harus berpikir panjang (tidak grusa-grusu) dan sabar. Bila tidak berpikir panjang, biasanya akan mengalami penyesalan di akhir. Sosok yang melengkapi sifat gareng dengan roso.. kepekaan dan kecerdasan yang mejadikan struktur punokawan semakin sempurna.

BAGONG. Inilah manusia yang sesungguhnya. walau petruk lengkap dengan keindahan dan kesempurnaan, tapi bagong lah yang dianggap sebagai manusia utuh. karena dia memiliki kekurangan. Jadi manusia yang sejati adalah manusia yang memiliki kelebihan dan kekurangan. jadi jangan takut atau malu karena kekurangan kita. karena kekurangan itulah yang menjadikan kita manusia seutuhnya.yang perlu kita pikirkan sekarang adalah, bagaimana meminimalkan kekurangan kita, dan memaksimalkan kelebihan kita. karena bagaimanapun kekurangan dan kelebihan itu tidak bisa kita buang atau kita hilangkan.

Begitulah kira-kira apa yang secara kultur budaya sudah mengajarkan kita bagaimana seharusnya bersikap dalam sebuah lingkungan baik kecil maupun besar. Tidak lain adalah saling berbagi sekaligus mendukung antar peran dalam menjalani kehidupan khususnya dalam hal berorganisasi.

Sang Naga Tuna Netra Penjaga Merpati

Sang Naga dan Merpati
Sang Naga dan Merpati

 

“Be wise as serpents and innocent as doves”. Jadilah cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Sebuah peribahasa yang berisi anjuran agar kita berhati- hati, polos, dan tulus dalam bertindak. Dengan kata lain, bersosialisasi dengan sikap sederhana, apa adanya, terus terang, tulus, tenang dan bijaksana tanpa kelicikan.

Peribahasa itu mengingatkan saya pada sosok teman disabilitas bernama Darno, seorang tuna netra berumur 35 tahun, bertampang sangar, mantan napi dengan tato naga namun bijak dan berhati lembut. Sekilas jejak perjalanan hidupnya membuat seharian kami akrab saling bercerita tentang kehidupan. Hingga saya menjulukinya Sang Naga Tuna Netra, karena hampir seluruh tubuhnya dibubuhi tato gambar naga.

Jejak Masa Lalu
Jejak Masa Lalu, Hampir Seluruh Tubuh Dihiasi Seni Tatto Bergambar Naga

Kisahnya bermula beberapa tahun lalu. Sang Naga adalah sosok yang benar-benar sangar dan ditakuti. Siapa yang tidak mengenal Darno Negro, sapaan akrab kala dia menjadi preman di kawasan kota Jogjakarta waktu itu.
Dan karena sepenggal kisah kelam 2004, Sang Naga harus menetap di hotel prodeo. Saat itulah dia terjerat buaian narkoba hingga overdosis dan matanya tak lagi mampu melihat.

Perlahan, predikat preman sangar yang ditakuti orang pun hilang dari dirinya. Kehidupan sosial sebagai tuna netra perlahan mengubahnya menjadi bijak, lembut dan bermanfaat bagi sekitarnya.
Semua orang punya mimpi, termasuk Darno, Sang Naga Tuna Netra yang hidup dengan kebutuhan khusus. Darno dan teman-teman disabilitas lainnya tidak beda dengan kita yang normal. Ketika kita hanya melihat kekurangan seseorang, maka hanya itulah yang kita lihat. Padahal belum tentu orang yang kita lihat berkekurangan itu tidak bisa berprestasi dalam hidupnya. Darno tak ingin dilihat kekurangannya saja. Apalagi hanya dinilai perilakunya di masa lalu.

Sukses, berprestasi, juara, itu biasa. Tapi mengawali semua dengan semangat, penuh keinginan dan menjalani semua proses dengan tulus agar bermanfaat itu baru luar biasa. Inilah semangat Sang Naga melanjutkan kehidupannya dari sosok preman menjadi penyandang disabilitas.

Demi masa depannya, Sang Naga mengawali perubahan hidupnya menjadi penghuni Panti Tuna Netra dan Tuna Rungu Wicara Penganthi Temanggung. Sebuah UPT Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah yang menangani para penyandang cacat tuna netra dan tuna rungu wicara.

Akrab Bersama Teman-Temannya di Panti
Akrab Bersama Teman-Teman

Di panti ini, semangat hidup semakin tumbuh ketika Sang Naga bertemu Titi Sari Murniati, gadis asal Kebumen yang juga tuna netra. Gadis berusia 14 tahun yang masih lugu, polos, begitu sederhana namun cantik seperti burung Merpati. Titi masuk panti karena merasa tidak betah di rumah yang dibatasi rasa kekhawatiran berlebihan dari orang tuanya saat ia bermain dengan teman-temannya.

Pertemuan Sang Naga dengan Merpati ini menjadi kisah sendiri dalam lingkungan panti. Meski sadar awalnya banyak cerita miring, tapi Sang Naga tetap sabar. “Mereka masih muda, masih emosi labil, saya tidak masalah mau dinilai bagaimana. Dengan mereka, saya bersikap apa padanya, jujur, tulus dan ikhlas adalah pintu saya diterima di sini” ungkap Sang Naga.

Kini, Sang Naga dikenal baik dan akrab sama teman-teman disabilitasnya, termasuk pengurus panti. Kedekatan Sang Naga dengan Merpati bukan seperti ular berburu mangsa. Meski awalnya dikira pacaran tapi mereka ibarat kakak yang melindungi adiknya ketika bermain.

Sang Naga yang selalu menemani dan menjaga Merpati
Sang Naga yang selalu menemani Merpati

“Dia kan masih kecil dan lugu Mas, kalau ada yang mengejek atau mengganggu terus menangis, siapa yang akan melindunginya?. Kalau temen-temen Titi yang lain kan sudah dewasa, sudah ada yang berpacaran dan bisa menjaga diri sendiri, sedangkan dia kan masih butuh perlindungan.” ungkap Mbah Darno saat ngobrol santai dengan saya di teras masjid panti.

Entah kenapa sosok Titi yang pendiam, murung dan pemalu ini justru menurut pada Sang Naga yang bermasa lalu sangar. Mencoba akrab dengan Titi, saya pun sedikit bertanya, kenapa dia tidak takut dengan Sang Naga.

“Iya, dia ngakunya preman, tapi nggak tahu, saya merasa aman saja sama Mbah Darno”, jawab Titi singkat.

“Saya pun juga nggak tahu mas, dan sejak bertemu sampai saat ini Titi juga belum pernah memanggil saya. Hanya ketika berpapasan atau mendengar langkah kaki saya, dia sudah tahu kalau ini saya,” sahut Sang Naga.

Lho kok bisa ya, he he. Saya berpikir mungkin karena Titi adalah sosok tuna netra sejak lahir yang pemalu, pendiam dan sedikit tertutup maka dia punya rasa kepekaan yang tinggi terhadap sekitarnya. Mungkin bisa disebut six sense kali ya? He he.

Keduanya Semangat Berlatih Membuat Keset
Keduanya Semangat Berlatih Membuat Keset

Nah, tak hanya saat bermain atau bersantai di panti saja. Sang Naga terkadang menemani Titi saat membuat pesanan keset sebagai salah satu aktivitas yang sudah menjadi program panti ini. Hasilnya pun lumayan, bisa menjadi tabungan selama di panti nanti. Dan mungkin bisa sesekali dikirim untuk orang tua di rumah atau sekedar membeli tongkat baru sebagai alat kebutuhan khusus disabilitas.

Sang Naga dan Merpati betah tinggal di panti rehabilitasi. Di sini banyak teman, dan pengurus panti yang baik sudah seperti orang tua sendiri. Karena tak sedikit pengurus juga dari penyandang disabilitas.

“Di sini Titi kan dilatih menjadi seorang yang bermanfaat bagi sesama nantinya, banyak aktivitas praktik bermanfaat yang bisa dilakukan. Daripada di rumah juga tidak boleh bermain, nanti malah merepotkan orang lain,” jelas Sang Naga mewakili isi hati Merpati.

Azan Duhur pun mengakhiri obrolan santai saya dengan Sang Naga, karena masih ada tugas lain. Setelah salat berjamaah, saya pun berpamitan.

Dengan bekal keahlian di balik kekurangan sebagai penyandang disabilitas, Sang Naga punya mimpi. Setelah selesai masa rehabilitasinya nanti, ia akan membuka sebuah panti pijat sekaligus memproduksi barang hasil belajarnya selama di panti. Tak cuma meraih prestasi atau kesuksesan semata. Menjadi sosok bermanfaat dalam kehidupan untuk sesama saja, menurut dia, itu sudah lebih dari cukup. Sebuah cita-cita mulia di balik masa lalu hitamnya. Dan tak lupa, Sang Naga juga ingin mengajak Merpati menjadi salah satu asisten di bidang usahanya kelak.

Hasil karya sebuah keset.
Hasil karya sebuah keset.

Sosok Sang Naga yang juga pernah menjadi inspirasi tulisan Budayawan Magelang, Sutanto Mendut ini menutup ceritanya dengan kalimat, “Panti rehabilitasi adalah Akses untuk Semua”. Kata-kata yang menurut saya sangat inspiratif, terutama bagi penyandang disabilitas. Karena tempat ini menjadi tempat menimba ilmu untuk berprestasi dan bermanfaat meski mereka mempunyai keterbatasan fisik.

Selamat Hari Disabilitas Internasional, kita semua sama di mata Tuhan. Keterbatasan bukan hambatan bro.. Semangat..!